Lamongan (beritajatim.com) – Siapa yang tidak mengenal benda dari buluh potongan bambu yang dirakit menjadi kerangka dan ditempeli kertas atau kain aneka warna lalu diterbangkan menggunakan benang? Ya, namanya adalah layang-layang. Saat musim kemarau seperti saat ini, bermain layang-layang menjadi aktifitas favorit yang menyenangkan.
Permainan layang-layang tak memandang usia, peminatnya mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Apalagi di momen Agustusan, keberadaan layang-layang kerap dianggap sebagai suatu hal yang wajib untuk dilombakan, dan seolah diwariskan secara turun menurun dalam tradisi kemerdekaan.
Di musim kemarau dan momen kemerdekan, para pengrajin layang-layang seringkali kebanjiran pesanan, bahkan tak jarang yang kewalahan melayani banyaknya permintaan dari para pelanggan. Salah satunya adalah pemuda bernama Udin, warga Desa Mungli Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan. Meski pandemi, ia mengaku mendapat keberkahan dari layang-layang.
Dalam kesempatan tersebut, Udin mengungkapkan, pada peringatan kemerdekaan kali ini, ia bisa meraup banyak keuntungan dari kerajinan layang-layang sowangan hasil buatannya tersebut. Layang-layang yang ia buat cukup unik, bentuknya menyerupai naga dan memiliki corak yang menarik. Wajar banyak orang yang tertarik untuk membelinya.
Meski sempat terpuruk akibat terkena imbas dari pandemi Covid-19, Udin mengatakan, saat ini perekonomiannya mulai bangkit dan membaik, hal itu lantaran hobi dan kepiawaiannya dalam membuat layang-layang sowangan berbentuk naga tersebut. Bagi Udin, bermain layang-layang merupakan hobinya sejak kecil.
Lebih lanjut, Udin menjelaskan, bahwa dirinya fokus menjadi pengrajin layang-layang itu ia lakoni sejak setahun yang lalu, tepatnya saat Covid-19 mewabah di Lamongan. Untuk memperdalam kemampuannya dalam membuat layang-layang, lanjut Udin, secara otodidak ia hanya belajar tutorial cara membuat layang-layang sowangan naga melalui Youtube.
“Berbekal coba-coba serta menekuni hobi masa kecil saat bermain layang-layang, Ahamdulillah akhirnya bisa. Saya juga suka melihat tutorial cara membuat layang-layang sowangan naga di Youtube. Saya sudah satu tahun ini menjadi pengrajin layang-layang sowangan naga,” ungkap Udin kepada wartawan di sela-sela mengerjakan pembuatan layang-layangnya, Sabtu (14/8/2021) kemarin.
Semula Udin hanya membuat layang-layang untuk dirinya sendiri, meski awalnya terkesan cuma coba-coba, tetapi semangat dan kegigihan yang dilakukan oleh Udin untuk terus mengasah kemampuannya sekarang berbuah manis. Ketika ia memperlihatkan kerajinan layang-layang buatannya itu ke sanak keluarga dan teman-temannya. Ternyata, mereka semua memuji hasil kreasi tangan Udin tersebut.
“Awalnya saya iseng buat layang-layang sendiri. Teman-teman dan keluarga saat itu bilang bagus. Lalu ketika layang-layang dicoba untuk diterbangkan, ternyata layang-layang itu bisa terbang, serta kelihatan bagus dan cantik. Dari situ, akhirnya saya yakin untuk memasarkan layang-layang hasil kreasi saya tersebut melalui media sosial, eh Alhamdulillah laris,” terang Udin.
Menjelang peringatan HUT RI yang jatuh pada tanggal 17 Agustus, Udin membeberkan, bahwa dirinya sampai kebanjiran pesanan, bahkan hingga lembur untuk menyelesaikan pembuatan layang-layang sowangan naga. Pembeli layang-layangnya, imbuh Udin, tidak hanya datang dari Lamongan saja, bahkan juga banyak permintaan yang datang dari luar daerah.
Terkait dengan harga layang-layang sowangan naga buatannya tersebut, Udin mengatakan kalau harganya cukup variatif, berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 5 juta, tentunya tergantung dari ukuran, panjang dan tingkat kesulitannya. “Alhamdulillah, untuk kemarau dan HUT Kemerdekaan RI ke 76 ini banjir orderan mas, tidak hanya Lamongan tok, pesanan juga datang dari Rembang, Jepara Jawa Tengah, hingga Jakarta,” lanjutnya.
Kemudian mengenai proses pembuatan layang-layang sowangan naga, Udin menuturkan, sebenarnya tidak terlalu sulit, karena hanya membutuhkan ketelatenan dalam merangkai satu persatu motif kain parasit yang menjadi bahan layang-layang. Ketika memulai pembuatan layang-layang, Udin biasa memulainya dengan memotong kain parasit terlebih dahulu.
“Kain parasit itu dipotong dengan menggunakan solder, sesuai cetakan yang sudah ditentukan. Setelah itu, hasil potongan kain tersebut direkatkan menggunakan lem untuk kemudian dijahit agar lebih kuat dan tak mudah goyah saat diterbangkan,” tandas si Udin.
[berita-terkait number=”4″ tag=”layang-layang”]
Untuk menyelesaikan satu buah layang-layang naga dengan panjang 70 cm, Udin menyebutkan, dibutuhkan waktu selama 20 hari. Oleh karena itu, untuk mempercepat proses pengerjaan kreasi layang-layangnya, Udin telah dibantu oleh keluarganya di rumah. “Selama mengerjakan layang-layang ini saya dibantu anggota keluarga saya yang lain,” pungkasnya.
Saat ini, layang-layang sowangan naga buatan Udin telah beterbangan menghiasi langit-langit di banyak penjuru kota. Bentuk dan coraknya yang menarik membuat suasana kemerdekaan kali ini semakin semarak, meskipun berlangsung di tengah pandemi yang belum diketahui kapan berakhirnya.[riq/ted]






