Surabaya (beritajatim.com) – Pembangunan Tugu Biawak di Wonosobo menjadi sorotan publik setelah diketahui hanya menelan anggaran sebesar Rp50 juta. Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Bidang Ilmu Lansekap dan Desain Perkotaan Berkelanjutan ITS, Prof. Bambang Soemardiono, menyampaikan pandangannya dari sisi arsitektur dan lansekap kota.
Menurut Prof. Bambang, nominal tersebut cukup mencengangkan mengingat banyak faktor yang memengaruhi biaya pembangunan tugu, seperti ketinggian bangunan, jenis material, serta kedalaman fondasi.
“Untuk tugu yang dikabarkan hanya Rp50 juta, harus dicermati spesifikasinya. Secara arsitektural, semuanya bergantung pada tinggi monumen, jenis pondasi, dan material yang digunakan. Dulu angka itu mungkin masih normal, tapi sekarang harus dipikirkan ulang. Mungkin ada kontribusi CSR atau keterlibatan warga,” ujarnya, Jumat (2/5/2025).
Ia juga menilai kemungkinan desain dan konstruksi tugu dirancang secara efisien. “Pondasinya mungkin tidak terlalu dalam dan skala monumen tidak terlalu monumental. Secara visual, landmark harus punya proporsi dan skala ( perbadingan tinggi dan jarak yang proporsional terhadap ruang sekitarnya.) Jika tugu setinggi 10 meter, idealnya menguasai ruang dengan garis tengah 20 meter,” tambahnya.
Lebih lanjut, Prof. Bambang menekankan pentingnya kualitas simbolik dalam desain, meski dengan anggaran terbatas. Dalam kasus Tugu Biawak, ia melihat simbol yang dihadirkan bersifat tangible (faktual/nyata) bukan konseptual (intangible)
“Simbol bisa konseptual atau faktual. Kalau faktual, seperti Tugu Biawak ini, langsung menyerupai bentuk biawak. Tapi simbol yang konseptual seringkali lebih kuat secara arsitektural karena memancing rasa ingin tahu penikmat, dalam hal ini masyarakat,” jelasnya.
Ia menyoroti peran arsitek dalam menjaga kualitas desain, bahkan dalam proyek berskala kecil. “Proyek publik tetap harus melewati perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Jika salah satu dikurangi, tentu berdampak pada biaya dan hasil akhir,” kata Prof. Bambang.
Meskipun belum melihat langsung bangunan tersebut, ia mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah, perusahaan penyumbang CSR, dan masyarakat. “Ini contoh desain yang dikerjakan bersama. Desain bukan hanya “for the people”, tapi “with the people”. Masyarakat turut terlibat,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa tren efisiensi anggaran seperti pada pembangunan Tugu Biawak bisa menjadi inspirasi ke depan.
“Efisiensi ini mendorong kreativitas. Yang penting adalah kejelasan konsep, proporsi, dan skalanya. Mahal belum tentu bagus. Kita harus mulai berpikir cerdas dalam membangun ruang publik,” pungkasnya. [ipl/but]






