Surabaya (beritajatim.com) – Tim Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melibatkan warga Sememi Kidul dalam pemutakhiran Surabaya Drainage Master Plan (SDMP). Langkah ini diwujudkan melalui Pameran Jurnal Kreatif ‘Sesudah Hujan’, Minggu (1/3/2026).
Kegiatan di RW 4 Kecamatan Benowo ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk memetakan dampak banjir. Warga tidak lagi menjadi objek pembangunan, melainkan subjek yang memberikan data otentik berdasarkan pengalaman langsung di lapangan.
Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya, Dr. Retno Hastijanti, menyebut perencanaan kota kini memerlukan variabel pengalaman warga.
“Apa yang dirasakan masyarakat menjadi variabel penting dalam merumuskan kebijakan yang berkelanjutan,” ujar Retno, dikutip Selasa (3/3/2026).
Model CeCUR meliputi eksplorasi cerita banjir, pemetaan dampak sosial-ekonomi, hingga diseminasi hasil secara terbuka. Data tersebut diterjemahkan menjadi bahan kajian teknis untuk memperbarui sistem drainase di Kota Surabaya agar lebih akurat.
Ketua RW 4 Sememi, Moch Tohir Muchsin, menilai pelibatan ini menumbuhkan rasa memiliki warga terhadap program pemerintah. “Warga merasa didengar karena pengalaman mereka menjadi bagian dari rekomendasi kebijakan,” ungkap Tohir.
Pameran ini sekaligus memperkuat kapasitas sosial masyarakat dalam menghadapi risiko perubahan iklim. Kesadaran kolektif dan pengetahuan lokal dijadikan fondasi utama membangun ketahanan kota di luar pembangunan infrastruktur fisik seperti pompa air.
Salah satu warga, Anisa, menekankan pentingnya edukasi lintas generasi melalui dokumentasi sejarah banjir ini. “Anak-anak sekarang jadi tahu bahwa kampung ini pernah mengalami masa sulit, dan kita bisa bangkit bersama,” tuturnya.
Pendekatan partisipatif di Sememi ini diproyeksikan menjadi model replikasi untuk wilayah lain di Surabaya. Kolaborasi akademisi dan komunitas menciptakan perencanaan kota yang lebih inklusif, adaptif, serta responsif terhadap tantangan lingkungan. [ipl/ian]






