Ringkasan Berita:
- Prosesi Bedol Pusaka kembali digelar untuk mengawali rangkaian Grebeg Suro 2026 di Ponorogo.
- Tiga pusaka daerah dibawa dari Pendopo Agung menuju Kota Lama Ponorogo di Kompleks Makam Batoro Katong.
- Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah berdirinya Kabupaten Ponorogo.
- Setelah bermalam di Kota Lama, pusaka akan kembali dikirab dalam agenda Kirab Pusaka.
Ponorogo (beritajatim.com) – Langkah para pembawa pusaka mulai bergerak meninggalkan Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo, Minggu (14/6/2026) malam. Di tengah lantunan tembang Jawa dan aroma dupa yang memenuhi area pendopo, prosesi Bedol Pusaka kembali digelar sebagai bagian penting dalam menyambut malam 1 Suro sekaligus pembuka rangkaian tradisi Grebeg Suro 2026.
Suasana berlangsung khidmat sejak awal prosesi. Sejumlah tokoh adat dan budayawan hadir mengikuti ritual yang telah menjadi agenda tahunan masyarakat Ponorogo tersebut. Tradisi ini bukan sekadar seremonial budaya, melainkan juga simbol penghormatan terhadap sejarah panjang berdirinya Bumi Reyog.
Tiga pusaka Kabupaten Ponorogo yang terdiri dari Payung Songsong Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, dan Sabuk Angkin Chinde Puspito menjadi pusat perhatian dalam prosesi tersebut. Ketiganya disiapkan untuk diberangkatkan menuju kawasan Kota Lama Ponorogo yang berada di Kompleks Makam Batoro Katong, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan.
Rangkaian acara diawali dengan pengalungan bunga melati kepada Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita beserta sejumlah tokoh yang hadir. Setelah itu, pengalungan bunga juga diberikan kepada tiga pembawa pusaka yang akan mengiringkan benda-benda bersejarah tersebut menuju tempat persemayamannya selama satu malam.
Menurut budayawan sekaligus tokoh masyarakat Ponorogo, Sunarso, tujuan Bedol Pusaka adalah membawa pusaka daerah menuju kawasan Pasar Pon atau Kota Lama Ponorogo. Lokasi tersebut memiliki nilai historis karena menjadi pusat pemerintahan pertama Kabupaten Ponorogo.
“Bedol pusaka adalah salah satu tradisi dalam Grebeg Suro untuk menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram atau 1 Suro yang rutin dilakukan di setiap tahunnya,” katanya.
Prosesi ini menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian Grebeg Suro. Pusaka diberangkatkan dari Pringgitan atau Rumah Dinas Bupati Ponorogo menuju kawasan Kota Lama untuk diinapkan sebelum kembali dikirab keesokan harinya.
Bagi masyarakat Ponorogo, perjalanan pusaka tersebut memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar perpindahan benda pusaka. Tradisi itu menjadi pengingat terhadap akar sejarah daerah sekaligus sarana memperkuat kebersamaan antarelemen masyarakat.
“Ini bagian daripada sebuah tradisi yang kemudian dikemas menjadi lebih sakral. Pusaka kemudian diarak sebagai simbol serta menyatukan kita bersama-sama,” kata Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, usai upacara pemberangkatan Bedol Pusaka.
Sepanjang perjalanan menuju Kota Lama, arak-arakan pusaka dikawal ratusan bregada atau prajurit tradisional. Mereka berjalan tanpa alas kaki dan menjaga suasana tetap hening. Iringan bunyi gong bende yang terdengar berulang menambah nuansa sakral dalam prosesi tersebut.
Setelah bermalam di Kompleks Makam Batoro Katong, ketiga pusaka akan kembali dibawa menuju Pringgitan melalui agenda Kirab Pusaka yang menjadi salah satu puncak perhatian masyarakat dalam rangkaian Grebeg Suro tahun ini. Lisdyarita menegaskan keberadaan pusaka yang dikirab bukan hanya menjadi simbol sejarah daerah, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga semangat gotong royong dan kebersamaan dalam membangun Ponorogo.
“Kita pingin pesan kepada generasi muda, tetaplah menjaga budaya. Semoga ke depan Kabupaten Ponorogo lebih baik, mendapat kemakmuran dan keberkahan dari Tuhan,” pungkasnya. [end/beq]






