Banyuwangi (beritajatim.com) – Menjelang Ramadan 2025, harga sejumlah bahan pokok di Banyuwangi mulai terkerek. Akibat kenaikan harga yanh cukup signifikan,
Pemerintah daerah berupaya untuk terus memantau pergerakan dan menekan harga di pasar dengan berbagai strateri.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskopumdag) Banyuwangi, Nanin Oktaviantie mengatakan, pemantauan harga terus dilakukan setiap hari. Menurutnya, Beberapa komoditas memang tengah mengalami kenaikan.
Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar, harga komoditas jenis cabai rawit merah mengalami kenaikan harga cukup tinggi menyentuh Rp 91.600 per kg dari sebelumnya Rp 85.600 per kg.
Minyak goreng curah kini dijual Rp 19.300 per liter, naik dari Rp 19.200. Sedangkan minyak goreng kemasan sederhana dan kemasan premium dinilai masih stabil di harga Rp 18.250 dan Rp 20.800.
Untuk daging, Nanin menyebut jenis ayam ras naik dari Rp 32.800 menjadi Rp 33.000 per kg. Telur ayam ras juga mengalami kenaikan. Kini harganya Rp 29.400 per kg, sebelumnya masih di angka Rp 28.900 per kg.
“Mendekati bulan ramadan seluruh perkembangan harga bahan pokok terus kami pantau,” tuturnya.
Nanin mengungkapkan, untuk menjaga stabilitas harga, pihaknya berencana mengajukan kembali operasi pasar. Upaya ini diharapkan membantu masyarakat menghadapi lonjakan harga.
Pihaknua berencana, operasi pasar akan kembali lakukan dengan Bulog pada 28 Februari, sebelum awal puasa Ramadan.
Selain itu, dinas juga akan kembali bersurat ke Bulog Banyuwangi supaya di bulan Rumadan operasi pasar tetap ada.
“Harga tidak bisa kami kendalikan sepenuhnya karena mekanisme pasar, terutama di momen tertentu seperti Ramadan dan Idul Fitri. Tapi operasi pasar bisa membantu menekan lonjakan harga,” jelasnya.
Meski beberapa bahan pokok mengalami kenaikan, namun, Nanin menyebut, stok bahan pokok di Banyuwangi dipastikan aman selama bulan ramadan berlangsung.
“Banyuwangi termasuk produsen bahan pokok. Bahkan, kita menyuplai beras, sayur, dan cabai ke Bali serta Pasar Kramat Jati Jakarta,” katanya.
Nanin mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam konsumsi, terutama saat harga minyak goreng naik. Alternatif menu masakan bisa menjadi solusi.
“Masyarakat Banyuwangi cukup pintar. Jika minyak mahal, mereka memilih menu lain seperti pepes, pindang koyong, atau pecel pitik. Mengurangi penggunaan minyak yg berlebih,” pungkasnya. (ted)






