Surabaya (beritajatim.com) – Kesenjangan tenaga kerja terampil di sektor industri masih menjadi masalah serius di Indonesia, termasuk di Jawa Timur. Balai Diklat Industri (BDI) Surabaya pun turun tangan dengan menggelar pelatihan jahit busana di Gresik sebagai bagian dari upaya mencetak SDM industri yang kompeten dan siap kerja.
Berdasarkan catatan BDI Surabaya, sepanjang 2024 pihaknya mencetak 4.490 lulusan dari 108 pelatihan, namun kebutuhan tenaga terampil khususnya di sektor tekstil dan garmen masih sangat tinggi.
Sebagai langkah konkret, BDI Surabaya bekerja sama dengan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Gresik serta Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kulit, Karet, dan Plastik (BBSPJIKKP) Yogyakarta menggelar Pelatihan Jahit Busana di Gresik.
“Kami berharap kolaborasi antar instansi pemerintah seperti ini dapat diperkuat dan diperluas dengan melibatkan dinas dari daerah lainnya dalam meningkatkan kompetensi SDM industri di berbagai wilayah,” tegas Kepala BDI Surabaya, Zya Labiba, Selasa (24/6/2025).
Pelatihan ini berlangsung selama enam hari melalui dua tahap, yakni pada 23-25 Juni 2025 dengan 75 peserta dan 1-3 Juli 2025 dengan 40 peserta. Semua peserta berasal dari Gresik, daerah yang dikenal sebagai pusat industri dengan kawasan ekonomi khusus dan penyangga tujuh kabupaten di sekitarnya.
Zya menegaskan, membangun industri tanpa menyiapkan tenaga kerja lokal yang terampil sama saja membuka celah bagi ketimpangan dan ketergantungan tenaga kerja dari luar daerah. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi langkah awal menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
“Pelatihan ini merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah daerah untuk membangun ekosistem industri yang kuat dan berdaya saing,” tambah Zya.
Kepala Diskoperindag Kabupaten Gresik, Darmawan, mengakui bahwa kekurangan tenaga terampil menjadi kendala dalam pengembangan sektor industri garmen di wilayahnya. Program ini menurutnya adalah investasi jangka panjang yang berdampak langsung pada kesiapan SDM lokal.
“Dengan adanya pelatihan ini, kami berharap dapat mencetak tenaga kerja terampil yang siap berkontribusi dalam pengembangan industri garmen di Kabupaten Gresik,” kata Darmawan.
Selain itu, ia berharap para peserta dapat memanfaatkan pelatihan ini untuk meningkatkan keterampilan dan bahkan berpotensi membuka usaha sendiri, sehingga turut menciptakan lapangan kerja baru.
Data Kementerian Ketenagakerjaan memperkirakan, kebutuhan tenaga kerja terampil di sektor menjahit di Jawa Timur masih mencapai 2.142 hingga 3.337 orang per tahun, khusus bagi lulusan SD hingga SMA/SMK. Di sisi lain, Gresik diproyeksikan menyerap hingga 62.859 tenaga kerja dalam skenario optimis hingga 2028.
“Gresik yang dikenal sebagai Kota Industri, diharapkan tidak hanya menjadi penyangga industri di Jawa Timur, tetapi juga mampu mempercepat transformasi K-UMKM agar lebih adaptif dan siap bersaing di pasar nasional maupun global,” tandas Zya. [asg/ian]






