Probolinggo (beritajatim.com) – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Pulau Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, telah berlangsung selama lebih dari 10 hari. Dampaknya, nelayan yang merupakan mayoritas penduduk pulau tersebut terpaksa harus berhenti melaut.
Ketidaktersediaan BBM jenis Solar dan Pertalite telah membuat kapal-kapal milik warga Pulau Gili Ketapang terdampar di pinggir pantai. Salah satu nelayan, Arifin, menyatakan bahwa pasokan BBM ke pulau ini sudah tidak ada selama 10 hari lebih.
Menurut Arifin, ketidaktersediaan BBM telah menghentikan aktivitas melaut para nelayan, yang bergantung pada perburuan ikan untuk mencukupi kebutuhan ekonomi mereka. Dia mengungkapkan kebingungannya karena sulitnya mendapatkan BBM jenis Solar, bahkan dia mencoba mencarinya di Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, namun menghadapi antrian panjang di Jembatan Pajarakan.
“Sudah cukup lama BBM sulit, jadi kami gak bisa melaut. Kalau sudah seperti ini gimana mau cukupi keseharian, padahal kita sangat bergantung pada perikanan,” kata Arifin, Senin (18/9/2023).
BACA JUGA:
DPRD Kabupaten Probolinggo Lantik Dua Anggota PAW
Warga lain di Pulau Gili Ketapang, seperti Radi Hasyim, juga mengalami kesulitan karena untuk mencari ikan di laut, mereka memerlukan sekitar 100 liter BBM jenis Solar dan Pertalite. Kondisi ini telah memaksa kapal-kapal mereka untuk tidak beroperasi dan berlabuh di tepi pantai.
“Kalau 20.liter solar aja gak cukup untuk berangkat atau sampai ditengah laut, kita biasa memerlukan 100 liter. Ini karena kita juga berputar mencari tempat yang ada ikannya,” kata Hasyim.
Menanggapi hal tersebut Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Mahdi, menyatakan prihatin atas situasi yang dialami warga pulau ini.
Dia mendesak Pertamina untuk segera memperhatikan nasib para nelayan di Pulau Gili Ketapang dan menangani masalah ini agar mereka dapat kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
BACA JUGA:
44 Desa di Kabupaten Probolinggo Raih Status Mandiri pada Tahun 2023
Mahdi juga menyoroti dampak pada pendidikan anak-anak warga pulau yang harus menimba ilmu di luar Jawa. Dia menekankan perlunya perhatian agar anak-anak ini tidak terlambat dalam perjalanan mereka menuju sekolah atau universitas di luar pulau tersebut.
“Ini harus segera ditangani karena ini merupakan kebutuhan utama warga yang mayoritas merupakan nelayan. Jika tidak segera ditangani, dampaknya akan demakin meluas, gak hanya ekonomi, tapi juga pendidikan. [ada/beq]






