Surabaya (beritajatim.com) – Bagi sebagian orang, diet untuk menurunkan berat badan terasa begitu sulit dan tak jarang berujung pada kegagalan. Hal ini mendorong banyak orang mencari solusi alternatif, salah satunya operasi bariatrik atau pemotongan lambung.
Metode ini digemari karena efektivitasnya dalam menurunkan berat badan secara drastis. Dr. Iwan Kristian, Sp.B-KBD, Spesialis Bedah Digestive dari National Hospital Surabaya, menjelaskan bahwa operasi ini akan memotong 80% lambung, sehingga kapasitas makan pasien berkurang drastis.
“Pasien tidak bisa makan banyak karena lambungnya telah mengecil,” ujar dr. Iwan, Rabu (8/5/2024).
Meski begitu, dr. Iwan menegaskan bahwa operasi ini bukan solusi instan dan tanpa risiko. Penurunan berat badan yang drastis dalam waktu singkat, seperti 56 kg dalam satu bulan, patut diwaspadai.
“Penurunan berat badan yang ideal harus bertahap,” tegasnya.
Operasi bariatrik umumnya ditujukan bagi pasien obesitas morbid, yaitu mereka dengan indeks massa tubuh (BMI) 40 atau lebih tinggi. Pasien dengan BMI 35 atau lebih tinggi juga bisa dikategorikan obesitas morbid jika memiliki kondisi kesehatan terkait obesitas.
Lebih lanjut, dr. Iwan mengingatkan bahwa kunci keberhasilan operasi ini adalah konsistensi pasien dalam menjaga pola makan.
“Lambung itu elastis, bisa membesar lagi jika dipaksa. Jadi, tidak ada cara yang kekal. Pasien harus tetap mengubah pola makannya,” tandasnya.
Operasi bariatrik memang menawarkan solusi cepat untuk menurunkan berat badan bagi pengidap obesitas morbid. Namun, perlu diingat bahwa metode ini bukan tanpa risiko dan membutuhkan komitmen jangka panjang dari pasien untuk menjaga pola makan sehat. [asg/aje]






