Banyuwangi (beritajatim.com) – Capaian kinerja Kabupaten Banyuwangi di berbagai sektor, khususnya pariwisata, terus menarik perhatian daerah lain. Terbaru, Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis dan Bupati Malang M. Sanusi datang langsung untuk belajar pengelolaan pariwisata dan strategi pembangunan daerah.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa model pengembangan daerah yang diterapkan Banyuwangi dinilai berhasil dan layak direplikasi. Hendri Arnis mengungkapkan, kunjungannya kali ini merupakan yang kedua setelah pertama kali datang pada 2011.
“Saya pertama datang tahun 2011, saat ini datang lagi di 2026 perubahannya sudah jauh sekali sangat luar biasa. Karenanya kami ingin mempelajari beberapa hal yang mendorong kemajuan Banyuwangi,” kata Hendri.
Ia menyoroti pesatnya perkembangan sektor pariwisata Banyuwangi yang dinilai mampu berjalan seiring dengan penguatan seni dan budaya lokal. Menurutnya, kemasan event budaya di Banyuwangi menjadi daya tarik tersendiri.
“Kami mengikuti perkembangan Banyuwangi di antaranya lewat media sosial. Kami melihat beragam event seni budaya dan kearifan lokal yang dikemas dengan sangat baik,” ujarnya.
Hendri berharap, setelah kunjungan ini, jajarannya dapat menjalin koordinasi lebih lanjut dengan organisasi perangkat daerah (OPD) di Banyuwangi untuk bertukar pengalaman dalam memajukan daerah.
Hal senada disampaikan Bupati Malang, M. Sanusi. Ia mengapresiasi keberhasilan Banyuwangi dalam mengangkat potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi.
“Kami juga ingin belajar berbagai alternatif pembiayaan pembangunan yang telah dilakukan Banyuwangi untuk memajukan daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki tantangan geografis dan demografis yang besar. Dengan luas wilayah yang hampir setara gabungan enam daerah di Surabaya Raya dan jumlah penduduk mencapai 1,7 juta jiwa, inovasi menjadi kunci utama pembangunan.
“Tantangan tersebut serta keterbatasan fiskal menuntut kami harus terus berinovasi untuk mengubah tantangan menjadi peluang,” kata Ipuk.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah menjadikan pariwisata sebagai penggerak utama ekonomi daerah. Namun, fokusnya tidak hanya pada peningkatan jumlah wisatawan, melainkan juga pada dampak langsung terhadap masyarakat.
“Kami menerapkan konsep 3A, yakni memastikan aksesibilitas, atraksi dan amenitas yang terjangkau dan tersedia. Kami bersyukur memiliki warga Banyuwangi yang sangat bangga dengan budayanya. Jadi, ide kami sangat nyambung dengan warga,” jelasnya.
Di Banyuwangi, seni dan budaya lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikemas menjadi atraksi wisata yang menarik. Melalui Banyuwangi Festival, berbagai tradisi lokal ditampilkan dengan sentuhan manajemen event modern tanpa meninggalkan nilai autentiknya.
Bupati Ipuk menegaskan, sebagian besar event dalam Banyuwangi Festival berasal dari tradisi yang telah mengakar di masyarakat dan dikembangkan bersama pelaku seni lokal.
“Tradisi yang telah hidup turun temurun di warga, kami kemas sedemikian rupa dengan manajemen event kekinian, akhirnya menjadi atraksi yang menarik. Banyak event yang memang digelar atas inisiatif warga, kami mengkurasinya sedikit agar lebih apik atraksinya,” paparnya.
Dampak dari strategi tersebut terlihat dari pertumbuhan ekonomi Banyuwangi yang terus meningkat. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,65 persen, naik signifikan dibandingkan 2024 yang sebesar 4,68 persen. Sementara itu, angka kemiskinan juga mengalami penurunan dari 6,54 persen pada 2024 menjadi 6,13 persen di 2025.
Capaian ini memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu daerah rujukan nasional dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat. [alr/beq]






