Ponorogo (beritajatim.com) – Kabar Mbok Yem, sang pemilik warung legendaris di puncak Gunung Lawu yang sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Aisyiyah (RSUA) Ponorogo, sudah tersiar di seluruh Indonesia.
Hal tersebut membuat masyarakat yang pernah mendaki ke Gunung Lawu berbondong-bondong untuk menjenguknya.
Sejak dirawat seminggu yang lalu, puluhan pendaki menjenguk Mbok Yem setiap harinya. Banyaknya pendaki yang menjenguk ternyata membuat Mbok Yem merasa senang sekaligus nelangsa.
Hal itu diungkapkan oleh Saelan, salah satu anak kandungnya, yang setia menunggu Mbok Yem di ruang Multazam RSUA Ponorogo.
Saelan pun juga ikut trenyuh, karena ibunya banyak yang menyayangi, karena banyak yang respect dengan menyambangi ibunya yang sedang sakit.
“Banyak yang menyambangi. Alhamdulillah, banyak yang sayang kepada mbok (ibu-red) saya,” ungkap Saelan, Selasa (11/3/2025).
Saelan mengungkapkan bahwa yang mengunjungi ibunya, tidak hanya para pendaki muda saja, tetapi juga pendaki yang sudah tua. Kebanyakan mereka, kenalan dengan Mbok Yem saat sedang mendaki ke Gunung Lawu.
“Ya yang menjenguk ini memang mereka yang sering mendaki ke Gunung Lawu. Kenal simbok ya saat ke warungnya di puncak Gunung Lawu,” anak kedua Mbok Yem tersebut.
Banyaknya pendaki yang mengunjungi itu, sempat membuat Mbok Yem menangis. Ia tidak menyangka banyak yang peduli denga dirinya. Padahal, menurut Saelan, ibunya saat di warung itu cuek. Ia merasa bersalah, selama ini acuh tak acuh terhadap pendaki yang berkunjung ke warungnya.
“Ya mungkin ibu kerja di warung kan juga sudah capek. Kadang ada pemdaki yang beli minta didahulukan atau minta foto. Lha simbok biasane cuek gitu, jadi merasa nelangsa saat dikunjungi, Ia juga sempat nagis,” katanya.
Sementara itu, Humas RSUA Ponorogo, Muh. Arbain menilai banyaknya pendaki yang menjenguk Mbok Yem langsung di rumah sakit, ada plus minusnya.
Ia menjelaskan efek plusnya, dengan banyaknya orang mengunjungi, berarti banyak orang yang mendoakan yang bersangkutan untuk sembuh. Minusnya, interaksi yang dilakukan penjenguk dengan Mbok Yem bisa mempengaruhi kesehatannya.
“Jadi beliau itu kalau ditanya oleh penjenguk pasti menjawab. Nah, banyaknya menjawab itu juga bisa mengganggu pernapasan, beliau tambak sesak nafasnya,” kata Arbain.
Seyogyanya, Arbain menghimbau kepada pendaki menjenguk, agar tidak ngobrol langsung dengan Mbok Yem. Mereka bisa menanyakan kesehatan Mbon Yem ke keluarga yang menunggunya. Sehingga Mbok Yem bisa istirahat.
“Keluarga Mbom Yem juga berpesan kepada kami, bagi yang membesuk untuk tidak mengobrol dengan beliaunya (Mbok Yem-red), tetapi bisa mengajak ngobrol keluarganya saja, biar Mbok Yem bisa istirahat,” katanya.
Untuk diketahui sebelumnya, Mbok Yem, sosok legendaris di kalangan para pendaki Gunung Lawu, kini tengah menjalani perawatan di RSUA Ponorogo. Pemilik warung di puncak Gunung Lawu ini, harus turun gunung akibat kondisi kesehatannya yang menurun.
Dari hasil pemeriksaan medis, wanita berusia 82 tahun tersebut didiagnosis mengalami pneumonia. Arbain menjelaskan bahwa saat pertama kali tiba di rumah sakit, Mbok Yem dalam kondisi lemah, dan mengalami sesak napas. (end/ted)






