Jakarta (beritajatim.com) – Pertumbuhan ekonomi nasional pada Kuartal IV 2022 diprediksi bakal menghadapi banyak tantangan. Jika ingin ekonomi terus tumbuh, maka diperlukan percepatan belanja APBN.
“Tantangan ekonomi di Kuartal IV akan lebih berat. Best year effect sudah tidak terasa, dampak kenaikan harga mulai dirasakan masyarakat,” ujar Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad.
Pada Kuartal III 2022, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,72 persen. Tauhid menilai ini sebagai capaian besar akibat terjadinya lompatan mobility indeks dari negatif menjadi sangat tinggi di sisi positif.
Sementara untuk Kuartal IV 2022, Tauhid memproyeksikan ekonomi tumbuh 5,3 persen. Apabila pemerintah ingin melampaui rekor yang sudah dicapai, maka perlu melakukan tiga hal.
“Pertama, mempercepat belanja modal dan barang. Perlu ada terobosan yang cukup strategis, dengan waktu yang sangat terbatas dalam dua bulan bisa diselesaikan, kalau tidak sangat sia-sia. SILPA yang besar tidak berarti pada masyarakat yang membutuhkan,” kata Tauhid.
Kedua, penyesuaian yang lebih moderat Suku Bunga Bank Indonesia mengikuti perkembangan inflasi yang sangat terpengaruh kondisi global. Sedangkan ketiga, perlu penguatan pasar domestik untuk mencegah pelambatan ekonomi, khususnya pada produk yang memiliki daya saing di pasar global.
“Mempercepat industri substitusi impor di tengah kuatnya arus importasi beragam produk industri,” tandas Tauhid.
Di sisi lain, Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyoroti inflasi di Indonesia. Menurut dia, pemerintah terbukti mampu mengurangi tekanan inflasi terhadap konsumsi secara keseluruhan yang dipicu kenaikan harga BBM bersubsidi pada 22 September.
Kinerja ekspor komoditas utama juga terus menghasilkan pendapatan ekspor dan fiskal. Kondisi ini memungkinkan pemerintah mempertahankan bantuan sosial dan transfer tunai, sembari tetap mengurangi defisit anggaran menuju konsolidasi fiskal pada 2023.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ekonomi-nasional”]
Faisal pun mengungkapkan fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap kokoh. Bahkan dengan latar belakang meningkatnya risiko resesi global di tahun depan.
“Di tengah normalisasi moneter global yang agresif untuk memerangi inflasi yang masih tinggi, kami melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia turun tipis menjadi 5,04 persen pada 2023,” terang dia.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan upaya pemulihan ekonomi domestik terus bergerak cepat di tengah pelambatan global. Indikasi ini terbaca dari laporan Badan Pusat Statistik yang mencatat ekonomi nasional tumbuh 5,72 persen di Kuartal III 2022.
“Berbagai upaya ini diharapkan bisa menjadi langkah kita untuk menghindari resesi global di tahun 2023. OECD, IMF, EDB, dan World Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 4,8-5,1 persen, artinya beberapa lembaga juga sepakat dengan Indonesia bahwa Indonesia bisa menjadi the bright spot in the dark, jadi masih bisa keluar dari resesi di tahun depan,” kata Airlangga. [hen/beq]






