Banyuwangi (beritajatim.com) – Tim Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) datang langsung ke Banyuwangi untuk menyusun roadmap kebijakan pertanian digital nasional. Alasan memilih Banyuwangi, lantaran di daerah ini banyak lahir petani sukses dengan teknologi modern yang telah berkembang.
“Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang digelar FGD untuk mendapatkan masukan dan ide-ide bagi Bappenas,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Dalam kesempatan ini, pihaknya juga memberikan sejumlah pemaparan terkait perkembangan pertanian dan petani di Banyuwangi. Termasuk bagaimana pemanfaatan teknologi untuk pertanian.
Baca Juga: Petugas Dishub Magetan Dituduh Hanya Cari Foto Kemudian Biarkan Truk ODOL Lewat
“Kami paparkan apa-apa saja yang sudah dilakukan Banyuwangi dan apa saja yang sekiranya dibutuhkan Banyuwangi ke depan untuk mengembangkan sektor pertanian, khususnya terkait pemanfaatan teknologi untuk pertanian ke depan,” jelas Bupati Ipuk.
Termasuk, kata Ipuk, Banyuwangi telah melakukan cara kreatif untuk melahirkan generasi muda petani yang inovatif, visioner, melek teknologi. Maka dari itu sejak 2018 membuat program Jagoan Tani.
“Kegiatan ini mengajak para milenial menggeluti bisnis pertanian dengan segala subsektornya. Ini juga sekalihus menjawab isu regenerasi petani,” kata Ipuk.
Head of Innovation Universitas Brawijaya, Dias Satria, pemerintah Banyuwangi telah membuat inovasi kompetisi Jagoan Tani yang digelar setiap tahun. Diakuinya, melalui inovasi itu banyak petani dan pengusaha yang dilahirkan.
“Jagoan Tani sukses melahirkan pengusaha pertanian yang sukses, bahkan mampu mengekspor produknya. Beberapa di antaranya juga mulai mengembangkan teknologi berbasis Internet of Things (IoTs) untuk membantu efisiensi pertanian,” terang Dias.
Baca Juga: Fraksi GIB: Gula APBD Jangan Jadi Pil Pahit Bagi Rakyat Jember
Sehingga pada kegiatan Forum Group Discussion (FGD), mereka juga melibatkan para peserta Jagoan Tani. Antara lain Edy Lusi, Ketua Asosiasi Panaba (Petani Buah Naga Banyuwangi) dengan teknologi penggunaan lampu pada buah naga; Mumtadz Zaid Bin Tsabit petani milenial dengan teknologi drone sprayer; Nanang Widayat petani ramah lingkungan pengendalian hama tikus dengan predator alami Tyto Alba.
Ada pula Fauzan Sukma, dengan teknologi reduktan pestisida Pandawa Agri Indonesia; Abdul Rachman Jauhari dari Sirtanio, dengan produk unggulan beras organik kualitas ekspor; dan Edy Suprandono dari P4S (Pusat Pengembangan Pelatihan Pertanian Pedesaan) Sukatani, dengan teknologi pengembangan vegetatif bibit hortikultura.
Tim juga melakukan kunjungan lapangan untuk melihat penerapan teknologi digital pertanian smartfarming di Banyuwangi, berupa greenhouse tanaman melon yang sudah beroperasi dengan metode IoT (Internet of Things).
Baca Juga: Baliho Capres Prabowo ‘Gemoy’ Mulai Bermunculan di Kabupaten Malang
“Semua teknologi pertanian yang dimanfaatkan oleh petani Banyuwangi menjadi masukan yang berharga bagi tim kami,” ujar Dias. (rin/ian)






