Surabaya (beritajatim.com) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI melalui Balai Diklat Industri (BDI) Surabaya dan Yogyakarta, melatih 175 santri dan santriwati lulusan pesantren untuk siap kerja.
Pelatihan itu dilaksanakan di Balai Diklat Industri Surabaya, Jalan Gayung Kebonsari Dalam, Senin (23/9/2024). Peserta mengikuti pelatihan secara luring (offline) maupun daring (di dalam jaringan).
Kepala BPSDMI Kemenperin bernama Masrokhan Sulaiman menyampaikan pelatihan vokasi kali ini digelar 3 in 1. Sebagai upaya konkret meningkatkan keterampilan dan daya saing santri di era digital.
“Ini merupakan langkah konkret. Mempersiapkan SDM kita demi menghadapi lanskap industri yang semakin kompetitif. Kami bersyukur atas kerjasama yang terjalin dengan RMI NU, berbagai industri,” jelas Masrokhan Sulaiman, Senin (23/9).
Dalam jumlah 175 peserta itu, 100 peserta akan mengikuti pelatihan Social Media Marketing dan 25 peserta mengikuti pelatihan Pengelasan, kemudian 50 lainnya ikut pelatihan Operator Alas Kaki.
Dalam pelatihan ini peserta juga diberi sertifikasi keahlian, yang diakui secara nasional dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sehingga, ini akan meningkatkan peluang santri mendapatkan pekerjaan.
“Program dirancang mencetak lulusan siap kerja yang tidak hanya mengatasi masalah pengangguran, akan tetapi juga mensejahterakan masyarakat,” ucapnya.
Rois Syuriyah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, (PBNU) Mohammad Nuh juga turut mengpresiasi program tersebut. Kata dia, RMI NU, Kementerian Perindustrian melalui BDI Surabaya dan Yogyakarta berhasil menyatukan dunia pesantren dan industri.
“Alhamdulillah. Pelatihan vokasi 3 in 1 ini, adalah pembekalan kompetensi. Dalam satu sisi mereka (santri) sudah punya kompetensi di bidang keagamaan. Tentu ini membuatnya semakin utuh, dilengkapi dengan kompetensi technical life skill,” kata Mohammad Nuh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2009 – 2014 itu.
Mohammad Nuh, yang merupakan Ketua Dewan Pers Periode 2019 – 2022 juga menilai ini program luar biasa. Yakni, mengupayakan muda – mudi Indonesia agar memiliki kompetensi ganda kuat iman dan tangguh dalam keterampilan (hard skill).
“Saya kira luar biasa. Karena melalui program ini menyiapkan anak – anak yang background santri. Tetapi dia (santri) tidak kalah punya kemampuan technical skill yang luar biasa, dan dilatih melalui program vokasi bernama ‘3 in 1’ ini,” pungkas dia. [ram/ian]






