Surabaya (beritajatim.com) – Banyak gubernur dari provinsi lain di Indonesia bertanya kepada Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, tentang strategi dan tata kelola Bank Jatim dalam meningkatkan kinerjanya. Sehingga bank ini mampu memberikan kontribusi signifikan, berupa dividen, kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jatim dari tahun ke tahun.
Hal itu dikatakan salah satu Komisaris Bank Jatim, Prof Dr Mas’ud Said, MM di Surabaya, di sela-sela RUPS Bank Jatim di kantor pusat bank ini, di Jalan Basuki Rachmat Surabaya, Kamis (22/5/2025).
“Ternyata banyak gubernur yang bartanya ke (Ibu) Khofifah (Gubernur Jatim) bagaimana mendorong capaian laba seperti Bank Jatim. Di mana Pemprov Jatim adalah pemegang saham terbesar, 51 persen lebih,” ujar Mas’ud.
Tak dapat dipungkiri oleh sejumlah Gubernur baru bahwa mereka kaget dan terheran-heran mengapa BUMD di daerahnya lemah tata kelola dan tak bisa diandalkan jadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pada situasi inilah yang membuat para gubernur baru ingin terus memperkuat Good Corporate Governance (GCG) di bank daerahnya masing-masing agar jadi BUMD handal, sehat, dan berkinerja bagus dalam perspektif bisnis.
Terhadap kinerja Bank Jatim yang terus meningkat dari tahun ke tahun dalam banyak aspek terkait penilaian kinerja bank, kata Mas’ud, realitas tersebut tak mungkin dilepaskan dari pembinaan, arahan, dan sentuhan kepemimpinan Gubernur Khofifah sebagai orang pertama di Pemprov Jatim.
Pemprov sebagai pemegang saham mayoritas dan Gubernur Khofifah merupakan representasi Pemprov Jatim. Karena itu, kinerja baik Bank Jatim tak bisa dilepaskan dari sentuhan kepemimpinan dan policy yang digariskan Gubernur Khofifah.
“Saya katakan bahwa apresiasi itu disampaikan beberapa kolega Gubernur Khofifah, khususnya gubernur dari luar Pulau Jawa. Bahkan, ada kolega Gubernur dari Pulau Jawa menyatakan demikian,” jelas Mas’ud, yang dipercaya kembali duduk sebagai satu Komisaris Bank Jatim.
Dalam situasi keuangan APBN dan APBD yang ketat, banyak gubernur berharap BUMD-nya berkinerja baik dan mampu menyumbang PAD sebesar-besarnya. Namun realitasnya, banyak BUMD yang dibiayai APBD, tapi tak signifikan menyumbang dividen.
Bahkan banyak BUMD di Indonesia yang sulit membiayai operasional kerja sehari-hari dan keuangannya kembang kempis. “Itu realitas,” tukas Mas’ud.
“Saya mendapat tamu setidaknya dua gubernur dan lima provinsi yang akan kolaborasi dan kerja sama dalam bentuk Kelompok Usaha Bank (KUB) dengan Bank Jatim. Terus terang kepada saya disampaikan bahwa mereka ingin belajar mendapat pengalaman tentang tata kelola perusahaan yang baik (GCG),” kata Gubernur Khofifah di kesempatan yang sama.
Dalam laporan auditednya tahun buku 2024 terkonfirmasi bahwa BJTM –kode emiten Bank Jatim di Bursa Efek Indonesia– mencapai laba –bank only– yang tertinggi di antara 27 BPD di Indonesia, yaitu Rp1,281 triliun. Bank Jatim menyumbang dividen yang cukup besar bagi PAD Provinsi Jatim, Kabupaten/Kota, dan pemegang saham masyarakat umum lainnya.
Namun demikian, Khofifah mengingatkan agar Bank Jatim tak berpuas diri, karena tantangan ke depan tidak ringan. Bank Jatim harus terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam manajemen perbankan, meningkatkan manajemen risiko, penguatan SDM, dan mampu mengadaptasi teknologi perbankan yang lebih baik.
Sementara itu, pakar manajemen bisnis dan ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Prof Dr Rhenald Kasali memuji manajemen Bank Jatim sebagai lembaga keuangan dengan kedekatan dan peran yang baik dalam UMKM Jatim. Dia mengapresiasi peran ekonomi bisnis bank ini dalam konteks mendinamisasi dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi lokal.
“Jatim sebagai pintu gerbang baru Nusantara butuh penguatan BUMD keuangan yang lebih baik, profesional, dan memberikan kontribusi riil kepada aktifitas sosial ekonomi masyarakat,” tambah Rhenald.
Profesional Internal Bank Jatim
Dalam RUPS yang digelar di Kantor Pusat Bank Jatim, Kamis, Gubernur Khofifah juga menyaksikan pengumuman formasi baru jajaran Komisaris dan Direksi Bank Jatim hasil Panitia Seleksi yang dipimpin Prof Dr Ir. Muhammad Nuh, mantan Mendiknas dan Menteri Kominfo.
Dalam pengumuman RUPS ini, Gubernur Khofifah mempercayakan profesional karir (bankir) internal Bank Jatim lebih banyak duduk di posisi Komisaris dan Direksi di bank ini dibanding formasi sebelumnya.
Proses seleksi calon Komisaris dan Direksi Bank Jatim ini berlangsung ketat dengan menggunakan jasa pihak ketiga, yakni lembaga PPM Jakarta, untuk menguji kemampuan calon pengurus. Pansel mengundang profesional terbaik untuk bersaing mendapatkan kepercayaan jadi pengurus Bank Jatim.
“Provinsi Jatim sebagai pintu gerbang baru Nusantara butuh penguatan ekosistem industri, perdagangan, dan BUMD keuangan yang lebih baik serta kontributif terhadap perekonomian daerah,” tegas Khofifah.
Dalam perspektif demikian, kata Khofifah, Bank Jatim diharapkan mampu membaca perkembangan bisnis dan menguatkan strategi pencapaiam visi, misi, dan soliditas di jajaran pengurus.
“Kinerja Bank Jatim mesti terus meningkat dari tahun ke tahun dan mampu mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Jatim dan nasional,” kata Khofifah mengingatkan. [air]






