Magetan (beritajatim.com) – Budaya mendaur ulang sampah dikenalkan oleh Bank Sampah Sapu Jagad sejak 2014. Bahkan kini mereka menerima botol bekas dan ditukar dengan buku dan alat tulis. Juli Kuswanto Pengelola Bank Sampah Sapu Jagad Desa Ringinagung, Kecamatan/ Kabupaten Magetan mengungkapkan pihaknya menyiapkan 80 paket alat tulis berupa buku dan alat tulis untuk anak yatim piatu dan anak yang kurang mampu.
Dia menyebut jika ini adalah wujud kepedulian mereka pada anak-anak yang kurang beruntung. Di tengah tahun ajaran baru ini, Juli mengungkapkan kalau harga alat tulis juga mahal dan banyak yang keberatan. Sehingga, pihaknya berinisiatif untuk menerima botol bekas untuk ditukar dengan buku dan alat tulis sebagai kebutuhan dasar siswa untuk belajar.
“Total ada 80 paket yang kami siapkan. Tadi sudah banyak yang datang untuk menukarkan lima botol air mineral bekas. Ini anak-anak yatim piatu baik dari lingkungan di Ringinagung dan salah satu pondok pesantren di dekat lokasi ini,” kata Juli pada beritajatim.com, Sabtu (9/7/2022).

Tak hanya itu, Juli juga turut memberikan edukasi pada anak-anak agar tak lantas membuang sampah sembarangan. Sekaligus belajar memilah sampah, sebagai contoh adalah botol bekas itu. Karena bisa didaur ulang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Seperti yang kami produksi sebagai produk daur ulang yakni kursi botol plastik. Kami tadi sempat tunjukkan produk tersebut. Dengan begitu anak-anak jadi tahu, sampah yang sehari-sehari dihasilkan masih ada yang bisa didaur ulang,” katanya.
Sementara itu siswa bernama Wahyu Rizki Amelia Putri (12) yang menukar botol bekas dengan paket buku tulis mengaku senang. Dirinya dan teman sebayanya tidak lagi membeli buku di toko. Dengan hanya membawa 5 botol bekas yang dikumpulkan orang tuanya bisa dapat buku sekaligus pensil pulpen dan penggaris.
[berita-terkait number=”4″ tag=”magetan”]
“Ya seneng, ibu tidak lagi mengeluarkan uang untuk membeli buku. Uang untuk beli buku bisa digunakan untuk membeli keperluan sekolah lainya,” ungkap Wahyu.
Senada dengan Wahyu, siswa lain yakni Fandi, Aris dan Fajar yang saat itu juga menukar lima botol bekas dengan diantar orang tuanya. Mereka mengaku senang dan sangat tertolong.
“Kalau mengumpulkan lima botol bekas tidak sulit, banyak biasanya dibuang sembarang. Tinggal pungut dan dikumpulkan saja, dalam sehari bisa lebih dari lima,” kata orang tua siswa yang mengantar anaknya. [fiq/but]






