Surabaya (beritajatim.com) – Kota Surabaya dengan penghuni 3 juta jiwa menjadi magnet yang menggiurkan bagi masyarakat pedesaan untuk bertarung nasib di kota terbesar kedua ini. Tak heran jika Kota Surabaya penuh sesak dengan pemukiman warga.
Rumah – rumah berhimpitan di jantung kota pun kini menjadi pemadangan yang hampir mirip dengan Ibukota Jakarta. Walau tak sesesak ibukota, harga sepetak tanah pun sudah melejit harganya. Banyak pemukiman warga tanpa fasum karena kebutuhan akan rumah huni makin tinggi
Tak jarang kawasan pemukiman tak memiliki fasilitas umum (Fasum) sekadar untuk ruang terbuka hijau agar warga bisa menjalankan aktivitas sosialnya dengan para tetangga.
Wajah kampung tanpa Fasum ini tercermin di salah satu Rukun Warga (RW) di Kelurahan Medokan Ayu Surabaya. RW 12 namanya, salah satu RW dari 1.360 RW di Kota Surabaya yang tak memiliki Fasum sebagai ruang berinteraksi sesama warga. RW 12 hanya memiliki 50 meter persegi balai RW hasil belas kasih seorang warga menyumbangkan tanahnya untuk dibagun secara swadaya balai pertemuan warga.
Dari sudut RW 12 inilah bermulanya sebuah cerita. Sebuah gerakan nyeleneh dengan mimpi besar pun di mulai. Yakni menciptakan lingkungan berkelanjutan yang bisa menjadi “rumah” hijau dan nyaman bagi seluruh warga yang tidak memiliki Fasum.
Segelintir ibu rumah tangga memulai gerakan kecil yang biasa namun kini membuat gaung besar bagi Kota Surabaya. Tanpa bantuan pemerintah apalagi ada embel-embel program penghijauan dari pemerintah kota, mereka mulai dengan langkah kecil.
Gerakan RW 12 bermula dari sebuah warga di wilayah Rukun Tetangga (RT) yang menggagas pemilahan sampah dengan nama Bank Sampah Cinta Medokan Ayu (Cinta MU) pada tahun 2016 silam. Yang kemudian program ini berjalan tanpa ada bantuan sosialisasi dari pemerintah kelurahan setempat.
“Kami sadar gerakan kami mungkin terlalu remeh untuk diakomodasi. Tujuan utama kami hanya ingin menciptakan kampung yang sesungguhnya. Dimana ada sebuah ruang tempat kami bercekrama sambil memanen sayur serta bertukar cerita tentang memanen berkah udara dan lingkungan bersih dari kota ini,” ujar Kahono, penggagas dan tetua RT 6 RW 12 Kelurahan Medokan Ayu.
Kahono dan keluarganya adalah salah satu keluarga pertama yang menempati pekampungan itu bersama tiga keluarga kecil lainnya. Dulunya di tahun 2000-an kawasan itu masih rawa dan tanahnya payau tak bisa ditanami pepohonan produktif seperti mangga, jambu, ranbutan dan lainnya. Namun berkat ketekunannya selama 25 tahun, akhirnya RT 6 penuh dengan pohon mangga dab jambu air serta bunga lainnya.
Saat ditanya darimana modal menanam semua itu, Kahono hanya tersenyum sambil mengarahkan jari telunjuknya ke kantong celananya sendiri.
“Ya dari kantong ini,” ujarnya terkekeh.
Ada raut bangga dan bahagia saat matanya memandang lurus hingga ujung gang. Gang RT 6 yang dulu gersang dan tandus kini menjadi tempat warga memilah sampah tanpa bantuan tenda seperti RT lainnya. Anak-anak dari para pendatang baru pun nyaman berlarian di jalanan gang kampung RT 6.
“Saat ini setiap anak-anak bermain di gang ini, mereka akan pulang dengan sekantong mangga, karena mangga sedang berbuah lebat di setiap rumah warga. Saya membagikannya gratis dan semua warga dapat,” ucap pria yang kini sudah berusia 65 tahun itu.
Diusianya yang tak lagi muda tentu sulit mempertahankan lingkungan tetap rindang dan warganya tetap memilah sampah dengan semangat. Ada banyak ketakutan menyelimuti hati dan pikirannya. Beruntung seorang pendatang baru yang kini menjadi tetangganya melihat upayanya melestarikan lingkungan tanpa kenal lelah.
Tetangganya, seorang ibu pekerja yang berupaya membuat gebrakan baru dengan mendatangkan sumber pendanaan dari pihak swasta.
“Saya melihat effort Mbah Kahono luar biasa. Si Mbah malah rela menghabiskan uang gajiannya untuk membeli bibit berbagai buah-buahan dan menanamnya sendiri di depan rumah warga agar lingkungan ini hijau. Namun lingkungan hijau saja tak cukup,” sela Renni Susilawati, yang akhirnya menggagas pendirian Kampung Hidroponik Surabaya di RW 12.
Renni pun mulai membuat beberapa proposal kepada beberapa perusahaan yang ada di Surabaya agar bisa mendanai program lingkungan yang berkelanjutan. Dari belasan proposal yang diajukan ternyata ada sebuah bank swasta yang tertarik dan akhirnya mendanai pembuatan media tanam untuk budidaya hidroponik.
“Jika Mbah Kahono melakukan untuk satu RT maka kami harus menularkan untuk gerakan lingkungan yang lebih besar lagi yakni satu RW sekalian,” kenangnya tersenyum.
Maka tahun 2019 dibuatlah gerakan menanam hidroponik untuk 7 RT yang ada di RW 12. Namun ironisnya gerakan itu bak menabrak dinding tebal. Mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa RW 12 tidak memiliki Fasum untuk media tanam hidroponik.
Meskipun tak ada fasum, namun dibeberapa RT ada beberapa tanah kosong yang belum di bangun rumah. Akhirnya Renni, ibu dua anak itu memohon pada Kahono sebagai tetua untuk mendekati pemilik tanah agar dipinjamkan untuk kegiatan hidroponik.
“Saat itu Mbah Kahono berkeliling kampung dan mendatangi para pemilik tanah agar bisa dimanfaatkan untuk kebun hidroponik. Dari 7 RT, alhamdulillah ada 4 RT yang bisa dipinjam tanahnya untuk sementara waktu. Dan dimulailah kegiatan pertanian hidroponik kami pertama kali di Desember 2019,” kenang Renni.
Gerakannya hidroponik ini pun mengundang rasa ingin tahu warga RW 12 untuk terlibat. Dari gerakan satu RT, kini Kahono dan Renni memiliki banyak support. Bahkan setiap ketua RT pun mu terlibat langsung mengelola media hidroponik yang ada di RT mereka.
Di tahun 2021 RW 12 membranding kawasan mereka sebagai kawasan dengan tanaman hidroponik terbanyak di Kecamatan Rungkut dan melaunching brand baru yakni Kampung Hidroponik Surabaya.
“Kami sengaja menggunakan kata “Kampung” karena sebagian besar warga kami adalah para urban yang mengadu nasib di kota ini. Kami ingin warga ketika pulang kerja masih menemukan kampung laiknya kampung halaman mereka. Ada harapan dan kehangatan desa yang kami tawarkan,” kenang Suyanto, Ketua RW 12 periode 2020-2022 lalu itu.
Dan di tahun 2022 Kampung Hidroponik Surabaya mulai melaunching gerakan Bank Sampah terpadu tingkat RW dengan nama Bank Sampah Cinta MU. Dimana kegiatannya tidak hanya sekadar memilah sampah tetapi juga mengolah komposter, mengolah jelantah menjadi lilin aromaterapi, membuat eco enzym hingga budidaya ulat maggot.
Dan di tahun 2023 Kampung Hidroponik Surabaya pun pernah mendapatkan juara 3 dalam lomba Kamoung Berseri Astra kategori profil kampung proklim.
Kini di tahun 2025 Kampung Hidroponik Surabaya terus meluaskan kampanye lingkungan berkelanjutannya dengan bekerjasama dengan mahasiswa Institute Sepuluh Nopember (ITS) membuat panel surya dengan kapasitas 1.500 Watt. Hasil tangkapan energi panas surya ini diubah menjadi listrik untuk pompa air hidroponik.
Sedangkan nama Bank Sampah Cinta MU sendiri kini menjadi gerakan digitalisasi bank sampah satu Kelurahan Medokan Ayu dengan nama website www.bscmu.com. Website ini hadir sebagai pusat data pencatatan omset semua bank sampah yang ada di Kelurahan Medokan Ayu. Totalnya ada 15 RW di Medokan Ayu yang menggunakan website ini sebagai pencatat digital omset sampah terpilah mereka.
Sebuah gerakan besar ternyata tidak datang dari fasilitas yang lengkap melainkan justru datang dari wilayah yang tak memiliki Fasum. Sebuah perubahan untuk membuat lingkungan lebih hijau dan berkelanjutan ternyata datang dari keterbatasan lahan.[rea]






