Surabaya (beritajatim.com) – Bisnis perbankan di tahun 2025 menghadapi tantangan tak ringan. Manajemen perbankan tak bisa berleha-leha, mengingat kompetisi antar-bank dan lembaga keuangan lain sangat tinggi, kontraksi ekonomi nasional dan internasional membutuhkan penyikapan, pencermatan, dan respon tepat dan akurat. Karena itu, manajemen perbankan mesti terus bekerja keras.
Salah satu kekuatan industri keuangan perbankan ada di formasi pengurusnya, di samping IT development, strategi, dan visi bisnisnya.
Secara nasional, mapping situasi keuangan daerah dan keuangan APBN bersifat ketat. Kebijakan efisiensi anggaran diterapkan banyak sektor pemerintahan dan pembangunan. Anggaran pemerintah juga ketat, semua harus bekerja hemat dan cermat.
Beberapa perusahaan mem-PHK karyawan, beberapa hunian hotel sepi turun okupansinya dari 70-80 persen jadi 40-50 persen, harga saham beberapa perusahaan merosot, dan dana murah sulit diakses. Itu potret makro ekonomi yang berkembang akhir-akhir ini.
Dalam kondisi demikian, manajemen bank harus memeras otak dalam menjalankan bisnis keuangan yang dikelolanya. Prinsip kehati-hatian mesti diterapkan lebih ketat dan tepat, sehingga memperkecil peluang munculnya kredit yang berakhir macet (Non Performing Loan/NPL).
Menurut sigi terakhir, banyak bank kecil dan BUMD di Indonesia yang sulit membiayai operasional dan hidupnya kembang-kempis. Di sisi lain, banyak pimpinan daerah yang ingin mencari Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) lebih tinggi dan lebih besar untuk membangun daerahnya dan memperkuat kapasitas APBD yang dikelolanya.
Banyak gubernur yang mau cari tahu bagaimana mendorong capaian laba dari BUMD di mana Pemda adalah pemegang saham terbesar. Situasi inilah yang membuat para gubernur baru ingin terus memperkuat penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) di bank daerahnya dan menjadi BUMD yang handal dan sehat, sehingga mampu memberikan kontribusi memadai kepada PAD.
Lebih-lebih merujuk Peraturan OJK Nomor 12 Tahun 2020 mengharuskan Bank Daerah memiliki modal inti minimal Rp3 triliun. Peraturan ini mestinya berlaku sejak Desember 2024. Bila tidak, potensial akan menjadi Bank Perkreditan Rakyat jika bank tak mampu memenuhi ketentuan terkait permodalan sebagaimana digariskan OJK.
Dalam perspektif demikian, manajemen Bank Jatim harus terus bekerja keras dengan menerapkan semua prinsip kinerja perbankan secara istiqomah. Prinsip GCG dan prudent dijalankan secara taat asas.
Pada tahun kerja 2024, Bank Jatim mencatatkan kinerja cukup bagus berdasar indikator kinerja bank sesuai regulasi positif yang ada. Bahkan, sejumlah Gubernur di Jawa dan luar Pulau Jawa ingin tahu dan belajar banyak hal tentang manajemen tata kelola Bank Jatim.
“Saya mendapat tamu setidaknya dua gubernur dan 5 provinsi yang akan kolaborasi dan kerja sama dalam bentuk Kelompok Usaha Bank (KUB) dengan Bank Jatim. Terus terang kepada saya disampaikan bahwa mereka ingin belajar mendapatkan pengalaman tata kelola perusahaan yang baik, penerapan GCG yang konsisten,” ungkap Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di sela-sela RUPS Bank Jatim tahun buku 2024 di Surabaya, Kamis (22/5/2025) kemarin.
Dalam laporan audited-nya untuk tahun buku 2024 terkonfirmasi bahwa BJTM –kode emiten Bank Jatim di Bursa Efek Indonesia– mencapai laba -bank only- yang tertinggi di antara 27 BPD di Indonesia, yaitu Rp1,281 triliun.
Karena itu, Bank Jatim menyumbang dividen cukup besar bagi PAD provinsi, kabupaten/kota Kota dan pemegang saham masyarakat umum lainnya.
Kendati mencatatkan kinerja positif di era dan lingkungan ekonomi nasional dan global yang penuh tantangan, sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP) Khofifah mengingatkan agar manajemen Bank Jatim tak berpuas diri.
Manajemen bank ini harus terus mengedepankan prinsip kehati-hatian, meningkatkan manajemen risiko, penguatan kapasitas SDM, dan mampu mengadaptasi perkembangan teknologi perbankan yang lebih baik dan terbaru, digital banking yang cocok untuk generasi Z, dan lainnya.
Perubahan Formasi Direksi dan Komisaris
Karena itu, berbagai langkah praktis perlu dilakukan pemegang saham dan manajemen Bank Jatim untuk meningkatkan kinerjanya. Satu di antaranya perubahan formasi jajaran direksi dan komisaris bank ini.
Dalam RUPS yang digelar di Kantor Pusat Bank Jatim, di Jalan Basuki Rachmat Surabaya, Kamis kemarin, Gubernur Khofifah menyaksikan pengumuman formasi baru komisaris dan direksi Bank Jatim hasil Panitia Seleksi yang dipimpin Prof. Muhammad Nuh, mantan Mendiknas dan Menteri Kominfo.
Di board komisaris, nama-nama yang dipercaya memegang jabatan komisaris adalah Adi Sulistyowati, Adhy Karyono, Muhammad Mas’ud Said, Dadang Setiabudi, dan dua pendatang baru: Nurul Ghufron dan Asri Agung Putra.
Formasi direksi Bank Jatim hasil RUPS tahun buku 2024 mengangkat Direktur Utama Winardi Legowo yang lama berkarir di Bank Mandiri, Wakil Dirut R Arif Wicaksono (internal Bank Jatim), Wiyoga Adiarma Aji (Dir. Manajemen Risiko dari internal Bank Jatim), Wahyu Kusumo Wisnubroto (Dir. Keuangan, Tresury and Global Services), Arif Suhirman (Dir. Bisnis Menengah Korporasi dan Jaringan), Umi Rodhiyah (Dir. Kepatuhan dan dari internal Bank Jatim), Tonny Prasetyo (Dir. Bisnis, Mikro, Retail dan Usaha Syariah), dan Wiweko Probojakti (Dir IT, Digital dan Operasional).
Prof Dr Rhenald Kasali, pakar manajemen bisnis dan ekonom dari UI Jakarta memuji peran ekonomi Bank Jatim dalam konteks pertumbuhan ekonomi lokal. Prof. Rhenald dan Gubernur Khofifah, dua tokoh yang selama ini dikenal sangat konsen masalah pembangunan kualitas SDM dan kultur perusahaan (corporate culture) yang dapat men-drive performance perusahaan.
“Jatim sebagai pintu gerbang baru Nusantara butuh penguatan ekosistem industri, perdagangan, dan BUMD keuangan yang lebih baik dan kontributif terhadap perekonomian daerah,” tandas Khofifah.
Catatan Kinerja Tahun Lalu
Berdasar catatan yang ada, manajemen Bank Jatim dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan kinerja cukup bagus. Sehingga bank ini bisa menjadi salah satu backbone penting penguatan kapasitas PAD dan APBD Jatim.
Hal itu dilakukan dengan kontribusi cukup besar Bank Jatim ke PAD Jatim dari tahun ke tahun, karena bank ini mencatatkan laba bersih cukup besar.
Pada tahun 2023, Bank Jatim membukukan kinerja keuangan positif pada Tahun Buku 2023 dengan total aset mencapai Rp103,85 triliun, tumbuh 0,80 persen dibandingkan 2022 (yoy) dan laba bersih 2023 tercatat Rp1,47 triliun.
Selain itu, ekspansi kredit yang diberikan berada di angka Rp54,76 triliun atau naik 18,54 persen (yoy). Angka penyaluran kredit tersebut tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan kredit nasional yang sebesar 10,3 persen.
Bank Jatim mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur melalui penyaluran kredit kepada usaha produktif yang berkelanjutan dan memberikan multiplier effect.
Kalau kita lihat ke belakang lagi, data kinerja Bank Jatim tahun buku 2022 kinerja positif dengan laba bersih sebesar Rp1,54 triliun, naik 1,3 persen dibanding tahun 2021.
Di tahun 2022, pertumbuhan laba tersebut disokong peningkatan penyaluran kredit yang mencapai 6,83 persen. Selain itu, total aset Bank Jatim juga mencapai Rp103,3 triliun pada tahun 2022 atau tumbuh 2,29 persen dibanding tahun sebelumnya. [air]






