Surabaya (beritajatim.com) – Banjir rob yang melanda kawasan pesisir Surabaya, khususnya di Kecamatan Krembangan dan Kalianak, tidak hanya melumpuhkan aktivitas warga, tetapi juga telah merendam lingkungan sekolah serta menghambat kegiatan belajar mengajar selama puluhan tahun.
Suasana belajar mengajar siswa di salah satu sekolah, SD Yayasan Karya Putra akan berubah drastis dan tidak seperti hari biasanya setiap kali luapan air laut membanjiri area sekolah.
Demi menembus banjir yang menggenangi ruang kelas setinggi mata kaki, para siswa terpaksa tidak memakai sepatu sebagai alas kaki dan hanya mengenakan sendal, bahkan mereka harus diungsikan berpindah ke ruang kelas lain yang lebih aman.
Meskipun area sekolah, dan pemukiman mereka terendam air hingga setinggi betis orang dewasa, sebanyak 195 siswa sekolah dasar tersebut tetap menunjukkan semangat belajar yang tinggi.
Untuk menjaga seragamnya tetap kering, para siswa biasanya digendong oleh orang tua mereka saat berangkat menuju sekolah.
Rutinitas serupa juga akan kembali dilakukan saat pulang sekolah; jika air belum surut, orang tua akan menjemput dengan cara menggendong mereka kembali ke rumah.
Yuli (44), seorang guru di SD Yayasan Karya Putra, menuturkan bahwa pihak sekolah selalu menyesuaikan metode kegiatan belajar mengajar dengan kondisi lingkungan yang terendam banjir.
”Dua kelas mengalami dampak terparah dengan genangan setinggi mata kaki, namun kami tidak meliburkan siswa karena pembelajaran ini wajib dan bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS),” ujar Yuli kepada beritajatim.com, Rabu (15/7/2026).
Menurut Yuli, masalah banjir rob ini sudah rutin terjadi dua hingga tiga kali dalam sebulan sejak sekolah berdiri pada 1998, dan meski sekolah telah berupaya melakukan perbaikan infrastruktur seadanya, kendala biaya membuat penanganan banjir belum maksimal.
”Saat rob datang, para siswa terbiasa memakai sendal, serta harus berangkat dan pulang sekolah dengan digendong oleh orang tua mereka,” tambah Yuli.
Senada dengan Yuli, guru lainnya bernama Nanda (60) mengamati bahwa ketinggian air rob justru semakin meningkat setelah adanya proyek normalisasi Sungai Kalianak yang lokasinya hanya berjarak beberapa meter dari belakang sekolah.
”Kami khawatir karena merasa genangan air yang masuk ke sekolah semakin dalam setelah proyek normalisasi dikerjakan, sehingga kami sangat berharap ada pihak yang peduli dan membantu mengatasi kondisi ini,” papar Nanda.
Sementara itu, Hendro, seorang warga Kalianak Timur, membenarkan bahwa banjir rob ini telah mendera wilayah mereka selama 63 tahun kebelakang, dengan ketinggian air yang bisa mencapai lebih dari 50 sentimeter.
“Warga kini hanya bisa pasrah memantau informasi pasang surut demi mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, baik itu terhadap aktivitas ekonomi dan pendidikan anak-anak kami,” pungkasnya. (rma/ted)






