Magetan (beritajatim.com)– Banjir luapan air merendam sejumlah titik di wilayah Kecamatan Magetan, Jumat (20/3/2026). Luapan air dilaporkan terjadi di antaranya di Jalan Mayjen Sungkono dan Jalan Sukowati, dengan titik terparah berada di selatan simpang empat SMP Negeri 4 Magetan.
Wakil Bupati Magetan, Suyatni Priasmoro, menyatakan peristiwa tersebut tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Ia menilai persoalan banjir di kawasan perkotaan Magetan merupakan dampak kumulatif dari berbagai persoalan, terutama terkait tata ruang dan kondisi drainase yang sudah tidak optimal.
“Tidak bisa dilihat dari satu sebab saja, baik dari hulu maupun hilir. Ini harus dilihat secara menyeluruh. Perlu audit komprehensif terkait tata ruang di Kabupaten Magetan,” ujar Suyatni.
Menurutnya, banyak saluran drainase, baik skala besar maupun kecil, yang sudah tidak berfungsi dengan baik. Kondisi tersebut diperparah oleh pendangkalan, tumpukan sampah, hingga adanya bangunan yang berdiri di atas saluran air.
Ia mencontohkan genangan tinggi yang terjadi di kawasan selatan simpang empat SMP Negeri 4 Magetan. Air dari area persawahan di hulu disebut telah meluap, namun aliran ke hilir juga terhambat sehingga memperparah genangan.
“Di hilir juga ada hambatan, sehingga aliran air menjadi lambat. Jadi bukan hanya dari hulu saja penyebabnya,” katanya.
Suyatni juga menyoroti maraknya pembangunan di atas drainase, termasuk praktik pengecoran saluran oleh warga tanpa memperhatikan kondisi di bawahnya. Hal ini dinilai memperburuk fungsi saluran air karena potensi penyumbatan dan pendangkalan tidak terpantau.
“Banyak drainase yang tertutup bangunan, bahkan dicor. Ini akumulasi masalah yang sudah terjadi lama, bukan baru sekarang,” imbuhnya.
Selain itu, ia menyebut sebagian ruas jalan di Magetan kini tidak lagi memiliki sistem drainase yang memadai. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko genangan saat curah hujan tinggi.
Pemerintah daerah, lanjutnya, telah mendorong perbaikan di tingkat lingkungan melalui program dana RT yang salah satunya dialokasikan untuk pembenahan drainase. Namun, ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga fungsi saluran air.
“Kalau semua RT bergerak dan sadar pentingnya drainase, dampak banjir bisa dikurangi. Selain itu juga bisa menjaga kualitas jalan,” jelasnya.
Di sisi lain, Suyatni mengakui penanganan banjir yang terjadi menjelang Lebaran belum maksimal. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kondisi tersebut.
“Kami mohon maaf karena belum bisa memberikan pelayanan optimal. Saat ini BPBD bersama aparat kepolisian dan relawan masih bekerja di lapangan untuk penanganan,” ujarnya.
Terkait dampak kerusakan, dilaporkan sebuah masjid, yakni Masjid Al Qoir di kawasan Jalan Mayjen Sungkono, mengalami kerusakan akibat terjangan air yang masuk ke dalam bangunan. Sementara itu, kondisi di Pasar Sayur Magetan dilaporkan relatif aman meski sempat terjadi luapan air dengan intensitas kecil.
Pemerintah Kabupaten Magetan berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang dan sistem drainase, termasuk penertiban bangunan yang berdiri di atas saluran air sebagai langkah jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa terulang. [fiq/aje]






