Mojokerto (beritajatim.com) – Balong Dowo dan Balong Bunder terletak di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Jika benar Balong Dowo simbol dari adanya lingga dan Balong Bunder adalah simbol dari stupa atau Budha maka kedua situs simbol wujud dari adanya toleransi beragama.
Balong Dowo berbentuk persegi panjang memiliki panjang sekitar 250 meter dan lebar 10-15 meter dengan kedalamannya 2-5 meter. Balong Bunder berada tepat di sebelah timur Balong Dowo. Diameternya adalah 20 sampai 25 meter. Di sekitar lingkaran terdapat bentuk sisa struktur bujur sangat berukuran 35 x 35 meter.
Guru Besar Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam kanal Youtube Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI mengatakan, saat berkunjung ke Situs Trowulan, Kabupaten Mojokerto banyak dijumpai kepurbakalan, monumen yang berhubungan dengan Kerajaan Majapahit.
“Ada candi, gapura, pertirtaan, runtuhan candi, danau buatan. Di samping itu juga ada pecahan bata, keramik, tembikar, arca, potongan prasasti dan lain sebagainya. Diantaranya banyak peninggalan di Trowulan, terdapat dua fitur arkeologi berupa balong atau kolam,” ungkapnya.
Penamaan balong karena kedua fitur tersebut, lanjut Aris, selalu digenangi air. Penduduk sekitar memberi nama keduanya yakni Balong Dowo dan Balong Bunder. Penamaan Balong Dowo karena dari bentuknya yakni empat persegi panjang dengan panjang 250 meter dan lebar antara 10-15 meter.
“Kedalamannya bisa dilacak sampai sekarang sekitar 2-5 meter. Sementara Balong Bunder, ada di sebelah timur Balong Dowo. Dinamakan bunder karena denahnya berbentuk lingkaran. Belum ada pengukuran yang pasti yang dilakukan terhadap Balong Bunder tetapi kira-kira diameternya antara 20-25 meter,” jelasnya.
Aris menyebut, di tepi sekitar lingkaran Balong Bunder cukup menarik karena terdapat bentuk sisa sktruktur bujur sangkar dengan ukuran 35×35 meter. Kedua balong tersebut merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Kota Majapahit, namun karena alam terjadi kerusakan.
“Dari abad ke abad terjadi kerusakan karena faktor alam sehingga menyisahkan bentuk fitur yang selalu digenangi air. Balong Bunder jika diamati bentuk lingkaran itu dikelilingi oleh bentuk bujur sangkar di sekitarnya. Dan itu mengingatkan kita kepada stupa yang berdiri di permukaan lapiknya,” katanya.
“Orang datang untuk melakukan upacara dan memberikan sajian bunga-bunga di atas permukaan lingga yang menyembur dari muka air tersebut. Jadi kita ingat dari cerita Lubdaka dalam kisah Siwaratri. Ketika kemalaman dan naik pohon sehingga dia memetik daun-daun pohon Kalpa dijatuhkan di permukaan lingga,” tuturnya.
Baca Juga: Situs Umpak Sentonorejo Trowulan Mojokerto, Landasan Tiang Bangunan Balai Masa Majapahit
Kajian arkeologis terhadap Balong Dowo dan Balong Bunder belum dilakukan dengan seksama. Aris menduga di dasar Balong Dowo, dahulu diletakan sejumlah lingga sebagai tempat upacara pemujaan terhadap Siwa. Jika benar maka Balong Dowo adalah simbol dari Hindu-Siwa.
“Balong Bunder adalah simbol dari stupa. Ini yang menarik bahwa kedua balong itu sejatinya adalah simbol Siwa-Budha yang memang berkembang di Kota Majapahit di masa silam. Kedua balong itu buka buatan manusia belaka tetapi sesuatu warisan intergral kebudayaan Majapahit,” tegasnya.
Selain kedua balong tersebut bermakna religius, Siwa dan Budha. Kedua balong tersebut juga menjadi bukti bahwa pada masa itu terdapat bentuk tolerasi agama yakni Siwa dan Budha yang dinyatakan dengan peninggalan yang masih tersisa sekarang dan letaknya berdekatan.
“Keduanya berada di sisi selatan Danau Segaran, jaraknya sekitar 250 meter saja dari Danau Segaran. Dan keduanya itu seakan-akan menjadi acuan semangat bagi wilayah Trowulan seluruhnya, wilayah Kota Majapahit seluruhnya,” pungkasnya. [tin/ted]







