Mojokerto (beritajatim.com) – Jumlah kunjungan di Balai Penyelamat Arca atau yang lebih dikenal dengan Museum Trowulan Mojokerto mencapai 1.200 pengunjung per bulan.
Ini lantaran adanya Merdeka Belajar yakni program kebijakan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada Februari 2022 lalu.
Kurikulum Merdeka Belajar diluncurkan demi mengejar ketertinggalan pendidikan di masa pandemi Covid-19. Alhasil sejak diluncurkan tahun 2022 lalu sebagai kurikulum nasional membuat kunjungan di Museum Trowulan meningkat.
Pamong Budaya Ahli Madya, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX, Yanti Muda Oktaviana mengatakan, kunjungan di Museum Trowulan lebih didominasi pelajar. “Adanya Kurikulum Merdeka Belajar, banyak kunjungan dari pelajar,” ungkapnya, Jumat (17/11/2023).
Masih kata Yanti, kunjungan di Museum Trowulan buka mulai hari Selasa-Minggu mulai pukul 08.30 WIB-15.30 WIB. Hari Senin dan hari besar atau libur nasional tutup. Sementara untuk tiket masuk, anak-anak sebesar Rp2.500 dan dewasa Rp5.000.
“Adanya Kurikulum Merdeka, para pelajar diajak berkunjung ke situs-situs, tidak hanya ke Museum Trowulan. Sehingga kunjungan banyak didominasi pelajar. Rata-rata per bulan, jumlah pengunjung sampai 1.200 pengunjung,” katanya.
Sekedar diketahui, pada tanggal 24 April 1924, Bupati Mojokerto R.A.A Kromodjojo Adinegoro bekerjasama dengan Ir. Henry Maclain Pont, seorang arsitek kebangsaan Belanda, mendirikan Oidheeidkundige Vereeniging Majapahit (OVM). Untuk digunakan meneliti peninggalan-peninggalan Majapahit.

OVM menempati sebuah rumah di Situs Trowulan yang terletak di Jalan Raya jurusan Mojokerto-Jombang KM 13 untuk menyimpan artefak-artefak yang diperoleh. Karena banyaknya artefak yang layak untuk dipamerkan, maka direncanakan untuk membangun sebuah museum yang terealisasi pada tahun 1926 dan dikenal dengan nama Museum Trowulan.
Baca Juga:
Pemilik Gartenhutte Trawas Mojokerto Beri Nilai tambah Warga Sekitar
Pada tahun 1942 museum ditutup untuk umum karena Ir. Henry Maclain Pont ditawan oleh Pemerintah Jepang. Sejak itu museum berpindah-pindah tangan dan akhirnya dikelola oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur. Tugas kantor tersebut tidak hanya melaksanakan perlindungan terhadap Benda Cagar Budaya Majapahit saja, tetapi seluruh peninggalan kuna yang tersebar di wilayah Jawa Timur.
Oleh karena itu koleksinya semakin bertambah banyak. Untuk mengatasi hal tersebut museum dipindahkan ke tempat yang lebih luas berjarak ± 2 km dari tempat semula yaitu pada tahun 1987 namun masih berada di Situs Trowulan. Museum baru tersebut sesuai dengan struktur organisasinya disebut sebagai Balai Penyelamat Arca.
Namun masyarakat umum tetap mengenalnya sebagai Museum Trowulan. Pada tahun 1999, koleksi prasasti peninggalan R.A.A. Kromodjojo Adinegoro dipindahkan dari Gedung Arca ke Museum Trowulan, sehingga koleksi Museum Trowulan semakin lengkap.
Sesuai dengan sejarahnya koleksi Museum Trowulan didominasi oleh benda-benda Cagar Budaya peninggalan Majapahit. Melalui peninggalan-peninggalan tersebut tampak betqapa telah majunya teknologi pada masa Majapahit, baik dalam bidang pertanian, irigasi, arsitektur, perdagangan, perindustrian, dan kesenian.
Koleksi tersebut ditata di gedung, pendopo, maupun halaman museum. Berdasarkan bentuk dan bahannya koleksi Museum Trowulan yang dipamerkan dapat dikelompokkan yakni Koleksi Tanah Liat (terakota), Koleksi Keramik, Koleksi Logam dan Koleksi Batu. [tin/ted]






