Malang (beritajatim.com)- Memasuki cuaca ekstrem tahun ini, virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes aegypti berdampak pada tingginya angka wabah Demam Berdarah (DB) di Kabupaten Malang. Waspadai balita rawan terserang DB.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalaian Penyakit Dinas Kesehatan (Kabid P2P Dinkes) Kabupaten Malang Tri Awignami Astoeti menerangkan, tahun 2023 kasus DBD terdapat 1.009 kasus dengan kematian 9 orang dalam setahun. Tahun 2024 per 23 Maret, sudah 905 kasus dengan kematian 10 orang.
“Artinya angka kematian tahun 2024 ini melebihi tahun 2023. Padahal ini baru bulan Maret. Kalau dibiarkan berbahaya,” kata Astoeti, saat memberikan arahan pada rakor pencegahan dan pengendalian penyakit DBD.
Mengingat lonjakan kasus DBD melonjak dua kali lipatnya pada bulan yang sama di tahun 2023, maka perlu adanya penanggulangan baik dari puskesmas, hingga rumah sakit.
Menanggapi hal itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, dr Bobi Prabowo Sp. EM, KEC, M.Biomed menjelaskan, untuk kasus demam berdarah usia paling rawan terserang adalah balita atau bayi dibawah lima tahun.
“Usia paling rawan terserang virus dengue adalah Balita. Kemudian anak-anak, khusus untuk anak-anak disini kategori usia mulai diatas 6 tahun sampai 17 tahun ya. Kalau dulu batasnya kan usia 14 tahun. Lalu orang dewasa juga bisa terkena virus tersebut,” tegas dokter Bobi, Jumat (29/3/2024).
Pada beritajatim.com, dokter Bobi mengulas wabah demam berdarah dan penanganannya. “Sebenarnya ada tingkatan atau urutannya. Jadi awalnya adalah demam dengue, dengue ini sebuah virus yang dibawa nyamuk Aedes. Lalu meningkat ke demam berdarah dan terakhir syock. Apabila virus dengue sudah sampai ke tingkat syock ini perlu penanganan ekstra,” tutur Bobi.
“Ada satu pasien kami penderita demam berdarah yang terpaksa kita rawat di ruang PICU, atau pediatric intensive care unit. Ruang ini khusus bagi pasien yang kritis,” sambungnya.
Menurut Bobi, penyebab balita rawan terkena virus dengue, karena antibodi balita masih sangat rentan. Terlebih, balita yang susah sekali diberi minum air putih, sangat mudah terkena virus dengue.
“Balita ini kan rata rata gak bisa minum banyak ya. Ketika terkena virus dengue, otomatis mereka demam, dehidrasi. Dan tubuhnya harus masuk cairan. Harus banyak minum air putih,” tuturnya.
Dokter Bobi menambahkan, ada beberapa grade untuk kasus demam berdarah. Pertama ringan, kedua sedang, ketiga berat dan keempat sangat berat atau syock. “Untuk posisi ketiga dan keempat ini harus dilakukan tindakan medis dan perawatan intensive.
Masih menurut Bobi, apabila anak anak atau balita mengalami demam, bisa jadi hal itu bukan akibat virus dengue. Melainkan demam biasa. Hanya saja, lanjut dokter Bobi, orang tua harus mewaspadai dan segera membawa anak anak dan balita mereka ke layanan medis apabila demam masih tinggi hingga hari ke tiga.
“Kalau hari ketiga masih demam tinggi segera bawa ke dokter, harus dicek apakah demamnya itu mengandung virus dengue atau tidak. Supaya ketahuan. Karena kalau sampai tidak ketahuan penyebab demamnya, karena apa, ini bisa beresiko,” ucap dokter Bobi. [yog/aje]






