Sidoarjo (beritajatim.com) – Tim SAR gabungan mengerahkan kekuatan penuh untuk mencari seorang balita berusia 2 tahun yang hilang diduga terseret arus Sungai Kedungan, Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, pada Kamis (9/4/2026).
Pencarian intensif dilakukan dengan menyisir aliran sungai hingga radius beberapa kilometer menuju arah laut sebagai respons cepat atas laporan hilangnya anak pertama dari pasangan Bahrul Ulum dan Wulandari tersebut.
Dugaan korban tercebur ke sungai diperkuat dengan ditemukannya sepasang sandal milik balita tersebut di area terdampak. Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, satu sandal ditemukan tergeletak di pinggir sungai, sementara satu lainnya dilaporkan sempat terlihat terseret arus air yang mengalir menuju hilir.
Insiden ini bermula saat orang tua korban tengah beristirahat di dalam rumah, sementara korban bermain di area luar tanpa pengawasan langsung. Keluarga baru menyadari hilangnya korban setelah melakukan pencarian di sekitar rumah dan berakhir dengan temuan sandal di bibir sungai yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga.
“Sandal itu ditemukan oleh keluarga korban saat mencari keberadaan korban sampai dekat sungai,” ujar Afendi (35), warga setempat yang ikut memantau proses pencarian di lokasi kejadian, Kamis (9/4/2026).
Afendi menambahkan bahwa saat kejadian, kondisi rumah sedang tenang karena orang tua mengira anak mereka sedang bermain bersama adiknya. “Saat korban bermain di luar, orang tuanya lagi tidur, dikira anaknya main sama adiknya. Setelah dicari tidak ada, baru ditemukan sandal milik korban di sungai,” jelasnya lebih lanjut.
Camat Tanggulangin, Arie Prabowo, mengonfirmasi bahwa pihak kecamatan telah berkoordinasi lintas sektoral dengan relawan dan tim SAR tak lama setelah menerima laporan. Sebagai langkah teknis, petugas telah menginstruksikan pembukaan pintu air dam dan pemasangan jaring di wilayah hilir, termasuk di kawasan Penatarsewu, untuk menghalangi kemungkinan korban terbawa lebih jauh.
“Kami juga sudah koordinasi dengan wilayah hilir seperti di Penatarsewu, bahkan pintu air dam dibuka dan dipasang jaring,” terang Arie mengenai upaya teknis yang dilakukan di lapangan dengan mengerahkan setidaknya lima perahu relawan.
Kepala BPBD Sidoarjo, Sabino Mariano, menyatakan bahwa operasi pencarian ini berada di bawah komando Basarnas dengan menerapkan metode standar penyelamatan air. Sebanyak enam regu dengan enam perahu karet dikerahkan untuk melakukan manuver di sungai serta penyisiran darat secara paralel dari titik rumah pompa hingga lokasi awal hilangnya korban.
“Hari ini kami turunkan sekitar enam perahu dengan enam regu. Pencarian dilakukan dari rumah pompa hingga lokasi ini, bekerja sama dengan Basarnas, BPBD, dan relawan lainnya,” jelas Sabino.
Petugas terus berupaya melakukan pencarian maksimal sebelum kondisi pencahayaan menurun, sembari mengimbau warga di sepanjang bantaran sungai untuk melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan korban. Teknik manuver perahu digunakan untuk menciptakan gelombang di dasar sungai guna mengangkat objek yang mungkin tersangkut di bawah air. [ian]






