Malang (beritajatim.com) – Dulu, Nur Khalifah, seorang pemijat tunanetra di Sawojajar, Malang, kerap melewati pekan tanpa satu pun panggilan. Kini, pesanan jasanya bisa mencapai 80 klien dalam sebulan, dengan jangkauan layanan hingga ke Kecamatan Dau, puluhan kilometer dari rumahnya. Di balik lonjakan tajam itu, ada program inkubasi bisnis yang membekalinya dengan senjata baru: pemahaman bisnis, legalitas, dan pemasaran digital.
Kisah Iva, sapaan akrab Nur Khalifah, adalah cerminan dari dampak nyata yang coba diciptakan oleh Empower Academy. Program yang diinisiasi oleh Bentoel Group melalui payung ‘Bangun Bangsa’ ini resmi memulai angkatan keduanya (Batch 2) di Main Hall Malang Creative Center (MCC) lantai 2,.Kota Malang pada Kamis, (17/7/2025) . Fokusnya tajam.memberdayakan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari kalangan difabel agar mandiri secara finansial dan mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
“Dulu saya kurang percaya diri, usaha ini mau dibawa ke mana,” ujar Iva saat ditemui di acara peluncuran. “Setelah ikut pelatihan Batch 1, saya jadi tahu teknik pemasaran, cara mengatur keuangan, bahkan sudah punya Nomor Induk Berusaha (NIB) dan logo. Alhamdulillah, sekarang tiap hari ada saja panggilan.”
Program ini bukan sekadar bantuan sesaat. Alih-alih memberikan uang saku, Empower Academy memilih jalan yang lebih fundamental: membekali peserta dengan ilmu. “Yang kami berikan adalah kebermanfaatan, keilmuannya untuk bisa diterapkan di bisnis mereka,” kata Irfan Rahmad, General Manager ngalup.co, yang menjadi mitra pelaksana program di Malang.
Menurut Irfan, banyak penyandang disabilitas telah memiliki keterampilan produksi yang mumpuni. Namun, tantangan utama terletak pada promosi dan akses pasar. “Potensi produk mereka luar biasa, tapi perlu dikenal lebih banyak orang. Caranya melalui digital marketing, aktivasi sosial media, dan optimalisasi mesin pencari atau SEO di Google,” jelasnya.
Pada Batch 2 ini, sebanyak 30 UMKM difabel terpilih akan mengikuti serangkaian pelatihan intensif selama enam bulan. Komposisinya terdiri dari 25 peserta baru dan 5 alumni Batch 1 yang masuk dalam program pendampingan lanjutan bertajuk Hypercare.untuk akselerasi skala usaha.
Materi yang diberikan mencakup pilar-pilar krusial dalam bisnis modern. Mulai dari legalitas seperti pendaftaran NIB, sertifikasi halal, hingga pendaftaran merek (HAKI) untuk menghindari sengketa di kemudian hari. Selain itu, penekanan utama diberikan pada strategi merawat pelanggan melalui platform digital seperti WhatsApp.
“Belajar dari Batch 1, kami melihat komitmen peserta sangat tinggi. Ini yang kami cari,” tambah Irfan. “Mindset mereka murni untuk belajar dan mengembangkan bisnis, bukan karena iming-iming uang saku.”
Kisah sukses lainnya datang dari Atik Tri Tatuningtyas, seorang penyandang disabilitas tunadaksa dari Kepanjen. Sebelum bergabung, usaha jus buahnya bernama generik, “JustJuice”. Setelah melalui pendampingan, ia melakukan perombakan total.
“Merek yang saya daftarkan ternyata sudah banyak yang pakai. Di Empower Academy, kami belajar branding, akhirnya merek diubah total menjadi FrutaFrooty, lengkap dengan slogan baru,” tutur Atik. Tak hanya itu, ia yang semula buta soal lokapasar (marketplace), kini mulai mahir menggunakannya.

Hasilnya? “Alhamdulillah perbedaannya sangat besar. Dari satu usaha, sekarang saya punya tiga cabang,” katanya bangga.
Dian Widyanarti, Head of Corporate and Regulatory Affairs Bentoel Group, menegaskan bahwa Empower Academy dirancang untuk mendorong perubahan pola pikir. Keberhasilan Batch 1 yang mencatatkan tingkat kelulusan (completion rate) hingga 96% menjadi bukti komitmen kuat para peserta.
“Program ini bukan sekadar membantu pengembangan usaha, tapi juga mendorong perubahan paradigma. Kami bangga dengan hasil yang telah dicapai dan berharap pada Batch 2 ini dapat memperluas dampak positif ke lebih banyak UMKM difabel di Indonesia,” ujar Dian.
Acara peluncuran ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, serta Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang, Donny Sandito, yang menunjukkan dukungan penuh pemerintah kota terhadap inisiatif inklusif ini.
Empower Academy sendiri merupakan program pemberdayaan masyarakat berskala nasional dengan fokus berbeda di setiap daerah. Jika di Malang menyasar UMKM difabel, di wilayah lain program ini merangkul kelompok masyarakat rentan, komunitas pedesaan, hingga para ibu tunggal untuk mencapai kemandirian ekonomi yang setara. (dan/but)






