Kualitas racikan taktik Jurgen Klopp dan Pep Guardiola di level domestik dan Eropa membuat persaingan Liverpool dan Manchester City sejak musim 2018-19 berjalan sengit. Timo Scheunemann, pelatih sepak bola tim senior dan muda keturunan Jerman yang tinggal di Indonesia, menilai kedua pelatih tersebut sama-sama berada di level istimewa kendati berbeda.
“Pep dan Klopp sedikit berbeda dalam arti Pep lebih bagus dalam hal taktik. Namun dalam hal memberi semangat sedikit di bawah Klopp. Sama high class, tapi sedikit bertolak belakang,” kata pria yang pernah melatih Persema Malang ini.
“Klopp bisa dikatakan memberi semangatnya, memberi motivasi, pendekatan kepada pemain itu ekstra. Sementara Pep itu bagus, tapi tidak ekstra. Sebaliknya kalau masalah taktik, Klopp bagus tapi tidak ekstra. Yang ekstra Pep,” kata Timo.
[berita-terkait number=”5″ tag=”liverpool”]
Kemampuan Klopp dalam memotivasi pemain ini ditunjukkan saat mengalahkan Barcelona 4-0 di Anfield dalam pertandingan semifinal Liga Champions 2018-2019. “Klopp mengatakan: Boys, yakin. Satu atau dua gol, bahkan jika jita tidak mencetak gol dalam waktu 15-20 menit petama, percayalah kita akan melakukannya pada menit ke 65, 66, 67, dan kemudian (penonton) Anfield akan di belakang kita. Percaya aku, kita bisa melakikannya. Kita melakukannya saat melawan Dortmund, dan kita melakukannya malam ini. Tunjukkan nyalimu malam ini,” kata Dejan Lovren, sebagaimana dilansir Goal.com.
Dalam buku Bring The Noise karya Raphael Honigstein, Guardiola sendiri memuji Klopp. “Klopp is the best coach in the world for the spectators, he creates teams that attack the back four,” katanya. Klopp disebutnya pelatih terbaik di dunia untuk penonton, karena menciptakan tim yang menyerang tim lain yang bertahan dengan empat pemain bek.
Kendati jago taktik, Guardiola disebut Timo beberapa kali melakukan kesalahan taktik yang berujung kekalahan. “Pep kadang-kadang keterlaluan, selalu mau mencoba sesuatu yang baru dan parahnya justru pada saat timnya sedang bagus-bagusnya. Dengan pemikiran supaya taktiknya tidak dibaca oleh lawan, membuat sesuatu yang ujung-ujungnya blunder. Itu masalah Pep,” kata pria yang pernah berakting dalam film Tendangan dari Langit ini.
Alex Ferguson dalam pengantar buku biografi Pep Guardiola, Another Way of Winning, menyatakan bisa memahami tekanan yang dihadapi Pep saat melatih Barcelona. Tujuh tahun melatih Barcelona, Guardiola menjadi pelatih tersukses melebihi mantan pelatih lainnya klub itu seperti Louis van Gaal, Frank Rijkaard, dan bahkan Johan Cruyff.
“The expectation was so high every time Guardiola’s team played, everyone wanted to beat them…the only thing he had to worry about was how he was going to break down the opposing team to stop them winning.,” kata pelatih legendaris Manchester United ini.
Harapan semua tim begitu tinggi untuk mengalahkan Barcelona yang saat itu dilatih Pep. Satu-satunya hal yang dikhawatirkan Pep, menurut Ferguson, adalah bagaimana dia menggagalkan cara tim lawan untuk mengalahkan Barca.
Timo memuji Pep sebagai sosok pelatih yang bukan hanya jago taktik, tapi juga bisa menjelaskan dan mengajarkannya kepada pemain. “Karena kelihatan persis, ke mana pun dia pergi, cara bermainnya sangat Pep. Jadi saya sangat menghormati pelatih yang memiliki ‘tanda tangan’ (ciri khas kuat, red),” katanya.
“Jadi kalau saya kurang suka pada satu pelatih atau pelatih lain, bukan berhubungan dengan suka atau tidak suka secara pribadi. Tapi sebenarnya saya melihat banyak sekali pelatih yang tidak memiliki ‘tanda tangan’. Pep ini memiliki ‘tanda tangan’,” kata Timo.
“Sama dengan Klopp. Klopp itu punya ‘tanda tangan’. Cara bermainnya selalu seperti itu. Tapi variasi permainan, dalam arti variasi taktik, itu yang menbedakan Klopp dan Pep,” kata Timo.
“Kalau Pep disuruh melatih tim-tim yang selama ini dilatih Klopp, seperti Borussia Dortmund dan Liverpool, saya rasa akan lain. Berbeda. Karena Klopp ini pelatih yang membangun tim. Sementara Pep ini membangun tim secara high class. Jadi membeli pemain dengan harga luar biasa mahal. Kita tahu Manchester City adalah tim termahal di dunia. LIverpool termahal keenam,” kata Timo.
“Nomor dua tim termahal adalah Manchester United, yang mendapat sorotan karena pengeluarannya begitu besar tapi tidak mendapatkan banyak trofi seperti Manchester City dan Paris St. Germain yang berada di tiga besar,” kata Timo. [wir/kun]






