Surabaya (beritajatim.com) – Bahwa di antara para petualang Portugis yang pergi ke Timur Jauh, ekspresi budaya tinggi mereka jarang sekali ditemukan. Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, begitu pula fakta bahwa sebagian besar dari banyak melodi yang dibawa Portugis, adalah nada-nada rumah dan jalanan yang sederhana.
Namun di antaranya ada dua jenis lagu yang sangat disukai oleh kelompok penduduk lokal karena alunan nadanya yang menyenangkan dan mudah didengar, serta kemudahan mengiringinya dengan keroncong. Lagu-lagu tersebut adalah “moresco” dan “proungo”. Kedua jenis lagu ini, seperti juga keseluruhan musik dan seni tari Portugis dan Spanyol, sarat dengan unsur-unsur Moor.
Bahkan dalam musik rakyat Spanyol modern masih terdapat unsur-unsur tersebut, misalnya dalam lagu-lagu dari Spanyol Selatan: “malaguenas” dari Malaga, “rondenas” dari Ronda, “polos”, “jacarros”, dan “canas” dari Andalusia. Bahkan dalam musik konser Spanyol modern, misalnya karya Albeniz dan De Falla; lebih kuat lagi dalam musik impresionis dari Debussy dan Ravel dari Prancis yang bertetangga, terlihat jelas kecenderungan Moor. Ini menjadi bukti betapa kuat pengaruhnya.
Sekadar dicatat bahwa kata “Moor” berasal dari bahasa Latin “Maurus”, yang berarti “penduduk hitam Mauretania (Maroko)”. Kemudian kata ini digunakan secara lebih umum dan sejak saat itu merujuk pada semua ras berwarna, terutama ras Arab.
Kita ingat bahwa bangsa Arab, awalnya terutama di bawah kekuasaan Umar (634–644; Suriah, Persia, dan Mesir), kemudian di bawah Dinasti Umayyah (661–750; Spanyol, Afganistan, Turkestan hingga Punjab, Asia Kecil, dan Armenia) melakukan penaklukan besar-besaran dan mendirikan kekaisaran dunia.
Bangsa Arab, dengan demikian, bersentuhan dengan banyak ekspresi budaya, antara lain di Persia dengan ajaran Zoroaster, melalui terjemahan Suriah dengan sastra Yunani, di Mesir dengan ilmu pengetahuan Yunani, dan di Asia Tengah dengan Buddhisme, serta bagian-bagian penting dari peradaban Tiongkok (pembuatan kertas, buku, dll.) dan terutama dengan matematika dan filsafat India.
Kontak budaya yang intensif ini mendorong perkembangan matematika, ilmu kedokteran dan ilmu alam, filsafat, dan kimia dalam bentuk awalnya yang mencakup pencarian “eliksir kehidupan” dan “batu filsuf”.
Berbagai penelitian yang dilakukan mengarah pada metode penelitian sistematis yang baru, yakni metode eksperimental. Ada baiknya merenungkan semua ini dan menyadari betapa luas dan mendalam pengaruh budaya Islam — yang tersusun dari banyak unsur budaya asing — terhadap budaya lain.
Dengan demikian kita dapat menyadari bahwa budaya ini, meskipun melalui jalur geografis yang panjang dan setelah berabad-abad, memberi pengaruh pada bentuk ekspresi budaya baru yang muncul di Indonesia, yakni pada keroncong dan dua jenis lagu populernya: “moresco” dan “proungo”.
Pertama-tama tentang “proungo” (yang kemudian dipelesetkan oleh orang Indonesia menjadi “prounga”). “Proungo” berarti secara harfiah “untuk satu”, yaitu untuk satu penyanyi.
Melodi ini dimainkan dalam nada minor, terdengar monoton, memiliki nuansa oriental yang khas, dimainkan — tidak seperti “moresco” — tanpa pengantar, dan meninggalkan kesan melankolis bagi para pendengarnya. Lagu ini awalnya sangat digemari dan dimainkan oleh orang Bandanezen (orang Banda), yang tinggal di kampung Bandan. Karena itu jenis lagu ini lambat laun dikenal dengan nama “keroncong Bandan”.
Tentang “moresco” ada lebih banyak yang bisa dikatakan. Melodi ini — namanya sendiri sudah menunjukkan — sarat dengan motif-motif Moor. Pada awalnya, selain diiringi keroncong, juga disertai tamborin, alat musik khas Moor, yaitu sejenis gendang kecil.
Di tanah kelahirannya, Portugis mungkin menggunakan lagu ini sebagai lagu gondola atau lagu nina bobo. Lagu nina bobo yang terkenal:
Nina bobo, nina bobo
Kalau tidak bobo, digigit nyamuk
Marilah bobo, ya noni manis
Kalau tidak bobo, digigit nyamuk
— yang dulu selalu dinyanyikan oleh para babu setiap malam menjelang tidur untuk noni atau njonya kecilnya — misalnya berasal dari masa Portugis.
“Moresco” dengan iramanya yang khas, yang sangat sesuai dengan jiwa Timur, lambat laun menjadi sangat populer di kalangan pribumi.
Orang-orang memuji melodinya dan alat pengiringnya yakni “gitar keroncong” atau disingkat “keroncong”.
Pada zaman dahulu, saat malam tiba dan orang berperahu di sungai dan kanal-kanal Jakarta, hampir bisa dipastikan terdengar suara pria, diiringi keroncong, seruling bambu, dan tamborin (rebana), menyanyikan “moresco” dalam bahasa Portugis yang telah terdistorsi:
Anda-anda boordi de mare
Mienji corsan noenka roilrutx.
Ja, boeska ia mienja amada
Noenka sabé clé jj ccndi.
Versi bebasnya berbunyi:
Melayang di tepi laut,
Hatiku tak tenang
Kucari kekasihku,
Ke mana dia pergi?
Kutanya bintang dan bulan,
Pernahkah kau melihatnya?
Tapi dia telah pergi
Tanpa mengucapkan selamat tinggal.
Oh datanglah, kekasihku,
Jangan lupakan aku
Aku tahu satu lagu
Dan kunyanyikan untukmu.
Ketika Portugis harus menyerahkan posisinya di Nusantara kepada Belanda, dalam komunitas kecil Kristen di Batavia perlahan-lahan terjadi beberapa pergeseran budaya.
Dalam hal agama, iman Katolik harus memberi jalan kepada Protestan. Dalam hal bahasa, bisa diamati bahwa bahasa Portugis, atau apa pun yang dianggap sebagai Portugis, masih bertahan cukup lama.
Pada masa awal VOC, khotbah-khotbah di gereja harus dilakukan dalam bahasa Portugis. Baru generasi-generasi berikutnya mulai beralih menggunakan bahasa Melayu pasar yang lebih mudah didengar, alih-alih bahasa Belanda yang sulit.
Unsur musik yang dibawa oleh Portugis ke sini juga mengalami beberapa perubahan. Setelah pasokan alat musik keroncong terhenti pasca kepergian Portugis, masyarakat — meskipun awalnya sulit — berusaha memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Terutama orang-orang keturunan Gowanezen yang menetap di kampung Tugu, berusaha semampu mereka membuat alat-alat musik tersebut. Bahkan lima puluh tahun yang lalu, hampir semua keroncong berasal dari bengkel-bengkel di kampung tersebut dekat Batavia.
Alat-alat itu tampak cukup sederhana, biasanya dibuat dari kayu cempaka atau kenanga dan diberi senar Cina murahan, bukan senar usus Eropa yang lebih mahal. Kayunya umumnya dibiarkan dalam warna alami, sementara pita logam di papan nada kadang diganti dengan potongan kayu yang direkatkan atau benang merah dari benang anyaman yang diikat kuat pada leher alat musik.
Dalam beberapa dekade terakhir, alat musik keroncong juga mulai dibuat di tempat lain di Indonesia. Sebelum perang, di “Pertoekarigan” berbagai pasar malam dan pasar tahunan, kami sering melihat contoh-contoh keroncong buatan lokal yang sangat bagus.
Dalam hal ini pun Indonesia telah mengalami kemajuan besar belakangan ini.
Baik “moresco” maupun “proungo”, kedua jenis lagu Portugis yang telah kami bahas, juga mengalami perubahan besar. Musik yang awalnya sederhana telah mengalami banyak variasi dan hiasan seiring waktu.
Memang motif dasarnya sering tetap dipertahankan, tetapi keseluruhannya menjadi lebih kompleks, terutama karena unsur improvisasi dari para pemainnya.
Pemain keroncong yang baik sering kali meyakinkan kami bahwa keroncong tidak boleh dimainkan dari lembaran musik, tapi dari ingatan.
Ini berkaitan dengan unsur improvisasi yang sama seperti yang berperan besar dalam musik Negro Amerika. [but]
*) Terjemahan bebas dari tulisan G.H. von Faber (Direktur Pendidikan Umum) yang dimuat di koran berbahasa Belanda “De Vrije Pers” (29-12-1948).






