Malang (beritajatim.com) – Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) global memicu urgensi penguatan kapasitas sumber daya manusia digital di Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi memperluas jangkauan Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026.
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) dipercaya menjadi tuan rumah pembukaan Workshop 1 Program AITF 2026. Kegiatan yang digelar secara hybrid dari Auditorium Algoritma FILKOM UB pada Rabu (11/3/2026) ini menandai kolaborasi strategis antara pemerintah dan akademisi dalam mencetak talenta AI yang kompetitif.
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya melibatkan satu universitas, program AITF 2026 kini mengintegrasikan kekuatan tiga perguruan tinggi negeri (PTN) besar, yakni Universitas Brawijaya (UB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital, D.Eng. Said Mirza Pahlevi, melaporkan bahwa jumlah peserta tahun ini melonjak signifikan. Dari yang semula hanya 34 mahasiswa pada 2025, kini menjadi 98 mahasiswa pilihan yang lolos seleksi ketat.
“Indonesia perlu menyiapkan talenta yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mampu merancang serta menerapkan solusi AI untuk menjawab tantangan nyata di masyarakat,” ujar Said Mirza dalam laporannya.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan bahwa penguasaan teknologi digital dan AI bukan lagi sekadar tren, melainkan faktor penentu kedaulatan ekonomi sebuah bangsa di masa depan.
“Negara yang menguasai teknologi digital dan kecerdasan artifisial akan memiliki kekuatan ekonomi besar. Pengembangan talenta ini krusial agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen atau pengguna, tetapi juga pencipta dan pengembang teknologi,” tegas Prof. Widodo.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris BPSDM Komdigi, Ir. I Nyoman Adhiarna, M.Eng., Ph.D., yang membuka acara secara resmi, menyoroti bahwa AI kini menjadi fondasi inovasi di sektor kesehatan, pendidikan, hingga pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa AITF dirancang dengan pendekatan berbasis use case.
“Peserta tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mengembangkan solusi AI untuk menjawab permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat dan pemerintah,” jelas Nyoman Adhiarna.
Di level fakultas, antusiasme mahasiswa tercatat sangat tinggi. Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 120 pendaftar, namun hanya 38 mahasiswa yang berhasil lolos untuk mewakili UB.
Pada tahap Workshop 1 ini, para peserta mulai mempresentasikan perkembangan awal proyek mereka. Fokus utama meliputi proses persiapan dan kurasi data, pemilihan model dasar (base model), hingga engembangan pipeline sistem AI.
Workshop ini merupakan tahap awal dari rangkaian kegiatan AITF 2026 yang akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Melalui sinergi antara Komdigi, perguruan tinggi, dan industri, program ini diharapkan mampu membangun ekosistem digital yang inovatif dan membawa Indonesia bersaing di kancah global.
Hadir pula dalam pembukaan tersebut jajaran pimpinan FILKOM UB, tim teknis, dosen pembimbing, serta perwakilan mahasiswa dari ITS dan UGM. (dan/but)






