Jember (beritajatim.com) – Asosiasi Petani Pangan Indonesia Jawa Timur mengeluhkan aturan distribusi pupuk bersubsidi ke petani. Mereka mendesak agar aturan distribusi pupuk bersubsidi lebih dipermudah.
“Saat ini mulai memasuki masa pemupukan, bukan petani dipermudah mendapatkan sarana produksi tapi semakin sulit. Stok pupuk subsidinya ada, mulai dari gudang penyangga, gudang distributor, dan di kios, tapi tak bisa disalurkan karena menunggu sistem yang terkesan ruwet dan membebani,” kata Ketua APPI Jatim Jumantoro, Kamis (6/1/2022).
Menurut Jumantoro berdasarkan aturan yang ada, petani harus terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Elektronik (e-RDKK). “Sedangkan jatah di RDKK sangat terbatas. Sekarang selain e-RDKK, ada sistem aplikasi T-Pubers Online. Sistem ini belum bisa maksimal, karena kios harus menggunakan HP (android) yang canggih untuk bisa meng-update T-Pubers tersebut,” katanya.
T-Pubers adalah aplikasi dalam jaringan yang memilikim kepanjanganm Penebusan Pupuk Bersubsidi. Aplikasi ini dibuat oleh Kementerian Pertanian RI dan harus diakses seluruh kios pengecer pupuk subsidi seluruh Indonesia. Aplikasi ini berisi informasi jumlah kuota pupuk subsidi yang diterima petani sesuai e-RDKK yang diajukan kelompok tanu dan Dinas Pertanian di masing-masing kabupaten dan kota.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pupuk-bersubsidi”]
“Kalau kios belum punya itu, maka petani tidak akan mendapatkan pupuk bersubsidi. Dengan sistem T-Pubers diharapkan penyaluran pupuk bersubsidi bisa tepat sasaran. Tapi kalau sistemnya menggunakan HP canggih, belum tentu kios mampu membeli karena HP juga mahal,” kata Jumantoro.
“Kami berharap penyaluran ini yang mudah, jangan dipersulit. Sama-sama disubsidi, gas elpiji tiga kilogram tidak serumit ini, tapi pupuk yang menghidupi orang banyak sebagai salah satu komponen pertanian ruwetnya setengah mati,” keluh Jumantoro. [wir/ted]






