Surabaya (beritajatim.com) – Sebenarnya Air Susu Ibu (ASI) sudah diproduksi saat masa kehamilan. Maka saat bayi lahir, ASI umunya sudah bisa keluar, meski mungkin masih sedikit. Kurang lebih saat awal-awal hanya keluar 2-7 cc saja.
Namun, ada kondisi di mana setelahnya ASI justru tidak keluar. Hal ini biasanya membuat para ibu menjadi cemas dan bahkan panik.
Padahal hal ini bisa diatasi dengan proses stimulasi dari sang bayi. Agar produksi ASI lebih lancar, maka stimulasi tersebut perlu dilakukan secara rutin atau terus-menerus.
Ada baiknya juga para calon ibu mempersiapkan diri sedari awal. Akan lebih memudahkan pula jika orang tua dan keluarga mempunyai pemahaman perihal ini.
Jadi, sebelum melahirkan support system dari orang terdekat setidaknya sudah membantu untuk memberikan edukasi mengenai beberapa hal, seperti inisiasi menyusui sejak dini, stimulus payudara, perekatan, hingga mengganti popok harusnya sudah dipahami.
Kemudian ketika atau setelah bayi lahir, cari rumah sakit yang pro inisiasi menyusui dini (IMD) dan rawat gabung. Hal ini dilakukan agar produksi susu ibu bisa lebih lancar, karena ibu dan anak tidak dipisahkan sehingga stimulasi ASI bisa dimaksimalkan.
Cara ini sebenarnya juga dapat dipengaruhi oleh kondisi masing-masing bayi. Bahkan ada bayi yang selama satu hingga dua hari setelah lahir masih bertahan tanpa mengonsumsi ASI.
Dalam kondisi normal memang mereka bisa bertahan karena adanya cadangan cairan dan brow fat yang ia miliki. Namun, bukan berarti para ibu bisa lebih santai. Terlebih pada awal kelahiran memang ASI menjadi kebutuhan utama.
Sebenarnya bukan banyak atau tidaknya paparan ASI yang diberikan, hanya saja yang terpenting ialah kolustrum atau air susu yang keluar saat pertama ibu menyusui.
Terlepas dari itu, banyak para ibu yang belum tahu bahwa posisi menyusui juga dapat mempengaruhi lancar atau tidaknya produksi ASI. (Fyi/ian)






