JAKARTA (Beritajatim.com)– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan kerusakan lingkungan. Asap yang dihasilkan juga menyimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama ibu hamil dan janin yang rentan terhadap paparan polusi udara.
Paparan asap kebakaran dalam jangka waktu tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan selama kehamilan. Salah satu kandungan yang perlu diwaspadai adalah partikel halus PM2.5, yakni polutan berukuran sangat kecil yang mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga paru-paru.
Dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), Suryane Sulistiana Susanti, mengatakan, perlindungan terhadap ibu hamil dan janin perlu menjadi perhatian utama dalam penanganan dampak karhutla maupun krisis lingkungan akibat perubahan iklim.
Menurutnya, dampak paparan asap tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan dalam jangka pendek. Polusi udara juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan rendah.
“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan polusi udara perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan ibu dan dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur serta berat badan lahir yang rendah,” ujarnya dalam keterangannya melansir portal resmi Nahdlatul Ulama.
Ia menjelaskan, polusi udara yang terhirup selama kehamilan berpotensi memicu peradangan dan stres oksidatif dalam tubuh. Kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi plasenta, yaitu organ yang berperan penting dalam menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu kepada janin.
Gangguan pada lingkungan perkembangan janin tersebut menjadi alasan paparan asap karhutla tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele, terutama ketika kebakaran berlangsung dalam waktu lama dan kualitas udara terus memburuk.
Puskesmas dan Posyandu Diminta Perkuat Perlindungan
Untuk mengurangi risiko kesehatan, Suryane mendorong pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan pelayanan kesehatan ibu dan anak di wilayah yang rawan karhutla.
Puskesmas, tenaga kesehatan, hingga kader Posyandu dinilai memiliki peran penting dalam memberikan edukasi sekaligus memantau kondisi ibu hamil yang tinggal di kawasan terdampak asap.
Langkah perlindungan tersebut dapat dilakukan melalui pemantauan kualitas udara secara berkala, pendataan ibu hamil yang membutuhkan perhatian khusus, serta edukasi mengenai cara mengurangi paparan polusi.
Selain itu, riwayat paparan asap dan keluhan kesehatan yang dialami ibu hamil perlu menjadi bagian dari pencatatan selama pemeriksaan kehamilan atau pelayanan antenatal.
Dengan pemantauan tersebut, tenaga kesehatan diharapkan dapat lebih cepat mengenali kondisi yang membutuhkan pemeriksaan maupun penanganan medis.
Ibu Hamil Dianjurkan Batasi Aktivitas di Luar Ruangan
Selain dukungan pemerintah dan tenaga kesehatan, upaya perlindungan juga perlu dilakukan dari lingkungan keluarga.
Ibu hamil yang tinggal di wilayah terdampak karhutla dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Menjaga kebersihan udara di dalam rumah dan mengikuti informasi maupun peringatan resmi dari otoritas terkait juga menjadi langkah penting.
Apabila terpaksa beraktivitas di luar ruangan saat kondisi udara dipenuhi asap, penggunaan respirator N95 atau jenis setara dengan ukuran yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.
Suryane juga mengingatkan agar ibu hamil tidak mengabaikan gejala kesehatan yang muncul setelah terpapar asap.
Keluhan berupa sesak napas, nyeri dada, maupun kondisi kesehatan yang semakin memburuk harus segera mendapatkan pertolongan medis.
“Kita perlu melihat karhutla bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai risiko kesehatan yang membutuhkan respons lintas sektor. Perlindungan ibu hamil dan janin harus menjadi bagian dari kesiapsiagaan bencana dan pelayanan kesehatan yang tangguh terhadap perubahan iklim,” tegasnya.
Perlindungan Ibu dan Janin Jadi Investasi Kesehatan
Dalam perspektif planetary health, kesehatan manusia memiliki hubungan erat dengan kondisi lingkungan dan keseimbangan ekosistem. Kerusakan lingkungan, pencemaran udara, hingga perubahan iklim pada akhirnya dapat memberikan dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api dan pemulihan kawasan hutan. Pemerintah juga perlu memastikan kelompok rentan mendapatkan perlindungan kesehatan yang memadai.
Pencegahan kebakaran, pengendalian pencemaran udara, penguatan fasilitas kesehatan, serta kebijakan yang berpihak kepada kelompok rentan harus berjalan beriringan.
Suryane menilai, perlindungan ibu hamil dan janin dari paparan asap karhutla merupakan bagian dari investasi kesehatan jangka panjang. Sebab, risiko yang muncul akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan tidak hanya dirasakan saat bencana berlangsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas kesehatan generasi mendatang.
“Melindungi ibu dan janin dari dampak asap karhutla merupakan investasi kesehatan jangka panjang. Risiko kesehatan akibat perubahan iklim perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari keluarga dan masyarakat hingga tenaga kesehatan dan pengambil kebijakan,” pungkasnya. [aje]






