Surabaya (beritajatim.com) – Media sosial tengah diramaikan oleh viralnya kata “epok-epok” setelah sebuah insiden terjadi di akun Instagram resmi Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.
Dalam siaran langsung (live streaming) yang dilakukan beberapa waktu lalu, terekam percakapan dari tim media sosial sang wali kota ketika sesi live dijeda.
Percakapan internal itu ternyata masih terdengar oleh penonton karena mikrofon belum dimatikan sepenuhnya. Dalam rekaman tersebut, terdengar suara seorang perempuan yang berkata,
“Lek kayak gitu, Mat. Ini kan videone bagus, simpen dulu ae. Nek besok-besok hujan bisa dipakai, epok-epok keliling.”
Cuplikan itu kemudian menyebar luas di berbagai platform, terutama di X (Twitter) dan TikTok, memicu beragam tafsir warganet mengenai makna kata epok-epok serta dugaan adanya unsur pencitraan dalam aktivitas media sosial Pemkot Surabaya.
Apa Arti Kata Epok-Epok?
Istilah “epok-epok” berasal dari bahasa Jawa, khususnya dialek yang digunakan masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Dalam Bahasa Indonesia, kata ini memiliki arti “seakan-akan” atau “seolah-olah”.
Ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak benar-benar terjadi, melainkan tampak seperti itu.
Misalnya, dalam konteks percakapan viral tadi, kalimat “epok-epok keliling” bisa diartikan sebagai “seolah-olah sedang berkeliling,” mengisyaratkan aktivitas yang tampak dilakukan, padahal belum tentu terjadi saat itu juga.
Bagi sebagian warga Surabaya, kata ini adalah bagian dari percakapan sehari-hari dan tidak bermakna negatif. Namun, karena konteksnya muncul dalam percakapan tim media sosial pejabat publik, istilah tersebut menimbulkan tafsir beragam di masyarakat.
Setelah video tersebut ramai diperbincangkan, admin media sosial Pemkot Surabaya, @heningdzikrillah, akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun Instagram pribadinya. Dalam unggahan itu, ia juga menyatakan mengundurkan diri dari posisinya.
“Dengan penuh penyesalan, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat, kepada semua pihak yang merasa terganggu, dan terutama kepada Bapak Wali Kota yang telah memberikan kepercayaan kepada saya,” ujarnya sembari menahan tangis.
Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan kelalaian pribadi dan tidak mencerminkan sikap maupun kebijakan Wali Kota Surabaya. Sebagai bentuk tanggung jawab moral, ia menyatakan siap menerima konsekuensi dari kesalahan tersebut. (fyi/ted)






