Malang (beritajatim.com) – Puluhan Aremania menggeruduk kantor klub Arema FC di Jalan Mayjend Panjaitan, Kota Malang pada Minggu, (15/1/2023). Demonstran kecewa dengan sikap manajemen Arema FC yang cenderung dianggap tidak memiliki hari nurani.
Tidak hanya membawa poster tuntutan, Aremania juga menyegel kantor sebagai simbol ketidak pedulian klub terhadap tragedi kemanusiaan yang merenggut 135 nyawa suporter dan membuat 600 lebih suporter terluka.
Mereka menuntut manajemen klub turut aktif dalam memperjuangkan usut tuntas Tragedi Kanjuruhan. Selama ini, klub dinilai tak peduli terhadap perjuangan korban dan keluarga korban tragedi kemanusiaan.
Beberapa tuntutan yang disuarakan yakni mundur dari kompetisi Liga 1. Sebagai bentuk empati terhadap para korban Tragedi Kanjuruhan. Selain itu, Aremania juga menolak segala aktifitas klub Arema FC di Malang Raya dan mendesak Arema FC sebagai subjek hukum untuk ikut aktif dalam menyuarakan usut tuntas.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
Tidak hanya itu, Aremania juga menyoroti rekrutmen dan manajerial pertandingan yang dilakukan secara asal-asalan. “Pihak PT AABBI (Arema FC) sampai detik ini hanya memberikan santunan untuk korban meninggal dunia sebesar Rp10 juta dan korban luka berat Rp5 juta dan luka ringan Rp2 juta seolah tragedi ini tuntas hanya dengan angka nominal rupiah,” kata salah satu Aremania, Ferry.
“Para korban dalam berbagai aspek masih perlu banyak pendampingan seperti advokasi hukum dimana proses keadilan masih jauh dari harapan serta penyembuhan trauma korban sampai hari ini belum banyak tersentuh,” imbuh Ferry.
Sebelum membubarkan diri, Aremania menyegel kantor Arema FC, dan melakukan tabur bunga. Mereka mengancam jika tuntutan tak dipenuhi selama 14 hari, aremania akan melakukan aksi dengan massa yang lebih besar. [luc/suf]






