Malang(beritajatim.com) – Divisi Hukum Tim Gabungan Aremania mengungkapkan ada temuan berbeda atas hasil rekam medis pasien korban Tragedi Kanjuruhan yang mengalami mata merah. Hasil rekam medis awal di rumah sakit yang disediakan pemerintah yang menyebutkan mata merah karena trauma dan benturan keras atau terinjak-injak.
Divisi Hukum Tim Gabungan Aremania, Anjar Nawan Yusky menuturkan, sedangkan saat mereka melakukan pemeriksaan ke rumah sakit swasta hasilnya berbeda. Diagnosa oleh dokter independen dampak gas air mata yang dirasakan Aremania sangat berbahaya.
“Kami melakukan pemeriksaan di tempat lain sebagai pembanding ke dokter spesialis. Temuan awal hasilnya berbeda, ditemukan penyebab mata merah karena pecah pembula darah di mata,” kata Anjar, Senin (17/10/2022).
Bahkan ironisnya, hasil rekam medis di rumah sakit swasta menyebutkan paparan zat yang mengiritasi korban Tragedi Kanjuruhan bisa menyebabkan kebutaan dan cacat permanen.
“Pemeriksaan spesifik harus diperiksa pada bagian kornea mata ada kemungkinan cacat permanen dan kebutaan ketika paparan zat mengiritasi mata dan kornea membuat cacat permanen. Ini harus jadi konsentrasi kita bersama,” imbuh Anjar.
Selain itu, Divisi Hukum Tim Gabungan Aremania, juga meminta polisi agar segera dilakukan autopsi atas semua korban luka dan meninggal dalam tragedi ini.
“Yang sudah di akomodir adalah rencana autopsi tapi bagaimana dengan korban luka. Sampai saat ini tim gabungan belum mendapat informasi yang pasti informasi yang jelas saudara kita yang dirawat di rumah sakit maupun yang di jalan apa penyebabnya,” kata Anjar.
[berita-terkait number=”3″ tag=”korban-tragedi-kanjuruhan”]
Cataran lain dari tim ini, korban luka dan korban trauma psikis belum disentuh dan direkomendasikan oleh siapapun. Menurutnya, adanya korban luka juga perlu dicari tahu penyebab lukanya.
“Kami perlu mencari penyebabnya apa, yang terjadi selama ini temuan kami adalah hasil rekam medis salah satu korban ke kami. Disebutkan mata merah akibat terinjak-injak. Sementara area wajah dan mata tidak terinjak sama sekali atau terluka. Dari situ muncul kecurigaan kami,” tandas Anjar.
Perlu diketahui dalam tragedi paling memilukan sejarah sepak bola tanah air. Sebanyak 132 Aremania dan Aremanita meninggal dunia. Sekitar 600 lebih mengalami luka-luka dan beberapa diantaranya sampai saat ini masih menjalani perawatan. [luc/suf]






