Malang (beritajatim.com) – Aremania memberikan ultimatum kepada polisi untuk transparan dan adil dalam mengusut Tragedi Kanjuruhan. Aremania bahkan mengancam akan turun ke jalan secara besar-besaran pada Kamis (8/12/2022).
Salah satu Aremania Kelayatan, Harie Pandiono Paimin mengatakan, mereka akan membuat lalu lintas di Malang lumpuh selama 135 menit. Durasi waktu itu sebagai simbol duka sekaligus pengingat bahwa 135 orang meninggal dunia akibat Tragedi Kanjuruhan.
Sebelumnya Aremania telah melakukan koordinasi di Stadion Gajayana beberapa waktu lalu. Hasilnya disepakati mereka akan turun ke jalan di hari kerja. Dengan rute Stadion Gajayana, Polres Malang dan Mako Brimob di Ampeldento, Kabupaten Malang.
“Dari Gajayana akan ke kantor polisi sampai ke Mako Brimob. Kamis kita tes 135 menit di hari kerja, saya minta maaf Malang macet, ini menunjukkan 135 nyawa,” ujar Harie Pandiono, Selasa (6/12/2022).
Harie Pandiono menyebut ajakan demonstrasi ini untuk seluruh Aremania dan warga Malang Raya yang ingin menyuarakan keadilan. Mereka tidak puas jika penanganan Tragedi Kanjuruhan yang membuat 135 nyawa meninggal dunia dan 600 lebih luka-luka hanya menggunakan pasal kelalaian 359 dan 360 KUHP.
[berita-terkait number=”3″ tag=”korban-tragedi-kanjuruhan”]
Aremania menuntut harus ada tersangka baru dengan tuduhan pasal pembunuhan 338 KUHP dan 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Sebab, mereka memandang bahwa penembakan gas air mata dalam Tragedi Kanjuruhan bukan kelalaian.
Selain itu, Harie Pandiono mengatakan, mereka akan menggelar aksi damai dengan tutup mulut. Mereka akan membentangkan sejumlah poster tunturan. Aksi diam dipilih untuk menyidir polisi. Bahwa meski Aremania protes tetapi mereka tidak beringas.
“Kita aksi diam dengan tulisan tuntutan. Diam artinya kita tidak beringas dan kita menyindir apa yang mereka perbuat,” tandas Harie Pandiono. [luc/suf]






