Blitar (beritajatim.com) – Pada Juni 1997 lalu sejumlah benda cagar budaya (BCB) di Pendopo Ronggo Hadi Negoro (RHN) Kabupaten Blitar dipindahkan menuju Museum Penataran untuk dikelola oleh Badan Pelindung Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Pada saat itu mencuat cerita bahwa ada satu arca yang kembali sendiri ke Pendopo RHN Blitar, yakni arca Agastya
Kejadian di luar nalar itu sempat menggemparkan masyarakat sekitar. Tidak sedikit masyarakat yang meyakini kepindahan arca tersebut ada campur tangan mahluk mistis.
Namun setelah ditelisik lebih jauh, terungkap fakta bahwa arca tersebut tidak kembali sendiri melainkan dikembalikan oleh petugas museum Penataran.
Juru Pelihara Cagar Budaya Balai Pelestari Kebudayaan (Jupel CB BPK) Museum Penataran, Sri mengungkapkan pada September 1997 paska-pemindahan koleksi BCB di Museum Penataran, tokoh spiritual Pendopo Bu Ning bermimpi arca Agastya minta untuk dikembalikan ke tempat semula.
“Pada September 1997, Bu Ning menyampaikan pada sejumlah pihak di Pendopo dan Museum Penataran jika bermimpi arca Agyasta untuk dikembalikan tempat semula,” ungkap Sri.
BACA JUGA:
Patung Bung Karno di Blitar Diperbaiki, Dana 98 Juta Digelontorkan
Melengkapi informasi tersebut, penjaga Museum Penataran, Budi Santoso juga menginformasikan prosesi pemindahan sejumlah BCB dari Pendopo Kabupaten Blitar menuju Museum Penataran yang saat itu baru dibangun. Dalam penjelasannya, Budi menyebutkan jika selama pengangkutan menggunakan mobil pikap juga diiringi dengan pemutaran gending Kebo Giro tanpa henti.
“Selama perjalanan mengangkut BCB dari Pendopo menuju museum Penataran, kami lakukan dengan iringan gending Kebo Giro sesuai dengan arahan dari para sesepuh dan tokoh spiritual yang menjaga BCB di Pendopo,” terang Budi Santoso, penjaga museum Penataran.
BACA JUGA:
Dua Pekan Kosong, Stok Blangko E-KTP di Blitar Akan Segera Dikirim
Pengembalian arca Agastya dilakukan pada 3 September 1997 berselang dua bulan setelah pemindahan. Dalam proses pengembalian dilakukan pada tengah malam dengan memutarkan gending Kabo Giro sepanjang perjalanan.
Pemindahan yang dilakukan pada malam tersebut dinilai menjadi penyebab adanya asumsi bahwa arca Agyasta kembali dengan sendirinya.
“Pengembalian Arca Agyasta juga diiringi gending Kebo Giro seperti saat dipindahkan dan dilakukan pada malam hari sehingga pada saat itu jarang ada orang yang mengetahui prosesi pemindahan,” tutup Budi. [owi/beq]






