Surabaya (beritajatim.com) – Sejak dahulu, keperawanan dianggap sebagai sesuatu yang sakral yang dimiliki oleh seorang wanita, terutama wanita Indonesia. Bahkan, keperawanan yang seharusnya menjadi privasi seorang wanita kini sudah masuk dalam beberapa institusi dan dijadikan sebagai suatu syarat.
Padahal, pengetahuan tentang keperawanan itu sendiri masih tak banyak diketahui oleh masyarakat. Banyak orang yang berpikir bahwa keperawanan seseorang hanya ditentukan oleh selaput dara, yang mana akan robek dan menyebabkan keluarnya darah ketika sedang melakukan malam pertama bersama suami.
Begitu banyak mitos tentang keperawanan yang tersebar di masyarakat, dan berikut pembahasannya.
1. Selaput dara perawan pasti utuh
Mitos ini menjadi hal yang paling sering diperdebatkan oleh masyarakat. Bahkan, dewasa ini sudah banyak institusi yang melakukan tes keperawanan dengan melihat selaput darah.
Faktanya, setiap wanita memiliki selaput dara dengan bentuk yang berbeda-beda. Dalam kondisi normal pun, umumnya selaput dara memang memiliki lubang berbentuk seperti bulan sabit, yang mana rongga tersebut menjadi jalan keluarnya darah saat menstruasi.
Selaput dara yang terlalu rapat atau bahkan tertutup seluruhnya justru menandakan adanya kelalaian yang disebut hymen imperforate, sehingga harus dioperasi. Selain itu, wanita tetap memiliki selaput darah meskipun sudah melakukan hubungan intim.
Tak menutup kemungkinan pula jika wanita tidak memiliki selaut dara. Sebab, selaput dara sendiri bukanlah organ penting yang memiliki fungsi khusus di tubuh.
2. Keluarnya darah saat pertama kali melakukan seks
Hal ini sebenarnya merupakan hal yang sepele jika dibarengi dengan pengetahuan. Sayangnya, banyak laki-laki yang beranggapan bahwa sang istri harus berdarah ketika malam pertama. Sehingga ketika hal tersebut tidak terjadi, maka nilai seorang wanita bisa berubah.
Faktanya, tidak semua wanita pasti berdarah saat melakukan seks yang pertama. Pendarahan memang bisa terjadi, namun dengan alasan tertentu. Misalnya karena selaput dara yang terlalu kecil, yang mana berbeda setiap orangnya, atau ketika hubungan seksual dilakukan di umur yang masih belia.
3. Robeknya selaput dara pasti karena hubungan seksual
Sayangnya, hal seperti ini juga masih banyak dipercayai oleh masyarakat. Perlu diketahui bahwa selaput darah robek tidak hanya terjadi lantaran hubungan seksual. Ada beberapa faktor lain seperti menunggang kuda, bersepeda, dan senam.
Bisa juga para wanita sudah melalui proses penetrasi vagina tanpa berhubungan seksual. Yakni ketika melakukan pemeriksaan USG trasvaginal atau melakukan prosedur pencegahan kanker serviks dengan pap smear yang mana melalui penetrasi dalam vagina menggunakan perlatan medis.
4. Seks pertama kali pasti sakit
Tidak semua wanita merasakan sakit saat melakukan hubungan seksual yang pertama kali, ini karena vagina bisa dibilang elastis.
Meski begitu, jika memang terasa sakit, ada kemungkinan lain yang bisa terjadi. Yakni lantaran otot-otot di sekitar vagina yang tegang dan tidak nyaman, atau bisa juga karena kurangnya pemanasan (foreplay).
5. Tes keperawanan
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, banyak sekali dilakukan tes keperawanan untuk mendaftar pada institusi tertentu. Atau mungkin ketika hendak menikah, mempelai pria meminta calon istri melakukan tes demi memastikan ia masih perawan.
Padahal, tes yang dilakukan ini belum tentu akurat, mengingat selaput dara setiap wanita pasti berbeda dan bisa robek karena banyak hal.
Konsep keperawanan sendiri sangat luas, setiap orang mengartikannya juga berbeda-beda. Sehingga keperawanan tidak dapat dibuktikan meski dengan pemeriksaan sekalipun.
6. Operasi selaput dara bisa mengembalikan keperawanan
Kalian mungkin pernah mendengar mitos yang satu ini. Bahkan di dunia kedokteran internasional pun, operasi selaput dara ini masih diperdebatkan.
Bagaimana jika wanita tersebut sedari awal memang sudah memiliki selaput dara yang berongga lebar, apakah ia disebut tidak perawan? Tentu saja tidak. Sehingga operasi ini pun tidak bisa membuktikan apapun.
Kesimpulannya, jangan sampai mitos tentang keperawanan ini terus berlanjut dan disebarkan. Apalagi dikarenakan tidak adanya informasi yang valid. Jangan sampai keperawanan menjadi tolak ukur nilai moral seseorang di mata masyarakat.(mnd/ian)






