Lamongan (beritajatim.com) – Padatnya aktifitas dalam rutinitas yang tinggi, seringkali membuat pikiran menjadi penat. Agar tidak bertambah stres, seseorang butuh merefresh kembali performanya. Sebagaimana banyak jalan menuju roma, banyak pula cara yang bisa dipilih untuk mengusir kepenatan. Sehingga tubuh kembali segar bugar.
Mungkin, salah satu dari sekian pilihan tersebut adalah nongkrong bersama keluarga dan sahabat. Lalu merencanakannya di tempat dengan suasana yang asyik, lebih hidup dan menyenangkan. Menemukan tempat nongkrong yang asyik di masa pandemi, tidak semudah yang kita bayangkan. Tentu, tempat itu harus santai, bersih, aman dan tetap mematuhi protokol kesehatan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kafe”]
Nah, Kafe Aola boleh jadi termasuk tempat yang rekomended untuk nongkrong seru bareng keluarga dan sahabat dekat. Kafe di pinggir pantai yang berlokasi di Jalan Raya Daendles Desa Kandangsemangkon Kecamatan Paciran Lamongan ini, menawarkan banyak keseruan di dalamnya, pengunjung bisa bergaya ala borjouis hanya dengan kantong tipis.
Owner Kafe Aola, Pradita Aditya menyampaikan, ide Kafe Aola sebetulnya bermula dari belum adanya tempat yang menurutnya representatif di pantura sebelumnya, Yakni tempat nongkrong yang keren, view pantainya bersih, menyediakan food court yang harganya murah, spot-spot foto unik, dan playground buat bermain anak.
“Bermula dari situ, lalu muncul ide tentang potensi bisnisnya. Sehingga kami ingin mewujudkannya di pantura, ada tempat ngumpul dan ngopi dengan image pantainya yang bersih dan bagus. Mulai kelas bawah hingga kelas atas semuanya bisa masuk. Kami butuh kurang lebih 5-6 bulan mulai dari perencanaan hingga proses pembangunannya, Alhamdulillah selesai,” ungkap Aditya, Sabtu (22/5/2021).

Dengan ditunjang luasnya lokasi, Aola mampu menampung banyak orang. Pengunjung bisa memilih minuman yang diinginkan atau sesuai selera, langsung pada deretan koleksi yang terpampang. Tersedia juga beberapa lapak dengan produk dan kuliner khas yang beragam dari UMKM lokal milik masyarakat pantura Lamongan. Diantaranya mlinjo, Kacang-kacangan, tempe kering, Soto Ayam Lamongan, rawon pantura, dan ada beberapa jajanan lainnya.
“Aola itu mungkin bisa diartikan sebagai tempat yang luas dan multifungsi. Bisa juga Aola itu singkatan dari Asli Orang Lamongan. Sehingga bisa dikatakan tempat ini adalah tempatnya asli orang Lamongan. Berbasis local product dan local heroes, intinya orang-orang lokal harus bisa skill up secara bisnis,” terang Aditya kepada beritajatim.com
Selain memiliki lokasi yang strategis dan parkir yang luas, Aditya menambahkan, kafe tersebut merupakan tempat berkumpul bagi keluarga yang ekonomis dan nyaman, dengan potensi pantainya yang bersih dan bisa dibanggakan. Memiliki coworking space, juga pelayanan terbaik dari barista asli Lamongan yang expert di bidangnya.
“Berbicara tentang keunggulan sih kumulatif ya. Pertama karena kita basicly adalah food and beverage. Maka yang pertama adalah taste makanan dan minuman. Kapasitas Aola mampu menampung banyak orang, untuk indoor bisa 600-an orang, outdoor bisa 700-an, kalau kursi mampu 200-an orang,” tambahnya sambil tersenyum.
Kafe yang memiliki daya tarik yang luar biasa ini merupakan usaha yang dimiliki oleh 6 orang dan dikelola secara profesional. Beberapa event kerap diadakan di sini, viral dan keberadaannya pun mencuri perhatian banyak kalangan. Wajar, jika Kafe kekinian di pinggir pantai ini tak pernah sepi pengunjung. Bahkan, paling ramai di kawasan pantura.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kuliner”]
“Memang satu pengelola, tapi pemilik sahamnya ada enam orang, yakni sahabat-sahabat saya dan bahkan ibu saya sendiri. Kebetulan saya pribadi pemilik saham terbesar dan saham pengendali, sehingga saya punya kewenangan dan kompetensi lebih daripada lainnya. Dengan usaha bersama, pastinya akan ada banyak kolega dari para pemilik saham, kita undang dan kita promosikan. Sehingga bikin bisnis lebih maju. Yang kita angkat local product dan local heroes,” jelas Aditya.
Diketahui, Kafe Aola ini juga menyediakan sewa stand bagi para pengusaha yang ingin menjajakan produk makanannya, bersebelahan pas di depan halaman kafe. “Sewanya enggak mahal kok, desain dan neon box kita siapkan. Penyewa hanya tinggal melengkapi sebagian kebutuhan yang khusus saja. Harga sewa 1 stand Rp 11 juta dan ukuran lumayan besar, untuk yang kecil Rp 3,5 juta per tahun,” ujar Aditya.
Saat normal, Kafe Aola buka selama 24 jam, khusus saat Ramadan hanya dibuka saat jelang buka puasa, dan selama libur Lebaran untuk jam buka tutup mengikuti aturan dan ketentuan dari pemerintah, karena situasi masih Pandemi. Jumlah karyawan yang bekerja ada 27 orang terdiri dari 2 back office, 1 konten kreator, serta lainnya terbagi beberapa tim, ada office boy, waiter, barista, dan kitchen.
Demi menjaga keamanan kendaraan para pengunjung kafe, baik roda dua maupun roda empat, pihak Aola telah berkolaborasi dengan para pemuda desa setempat. “Kami juga menempatkan CCTV di beberapa titik, optimalisasi parkir dari pemuda lokal setempat dan kita kasih advice supaya ada standar operasional khusus sehingga aman dan terkendali,” tutur Aditya, alumnus fakultas hukum Unair Surabaya ini.
Para pengunjung yang datang ke Aola pun akan dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang ada. Mulai dari speedboat, playground buat anak-anak, spot untuk swafoto, komedi putar, bianglala. Dari beberap fasilitas itu, yang paling favorit adalah naik kuda sambil menikmati pesona pantai yang indah. Pengunjung yang ingin mencobanya, hanya perlu merogoh kocek Rp 5 ribu. Nongkrong dan berwisata dengan keluarga, tapi murah dan menyenangkan.

“Aola itu destinasi wisata murah dan bersih, sehingga orang datang jadi hepi, nyaman, bahagia. Jika orang bahagia maka hormon endorfinnya pasti nambah, sehingga lebih sehat, imun kuat. Rencana kami akan bangun lebih besar lagi, lebih homey,” kata Aditya, pengusaha muda tersebut.
Sementara itu, Alfian (29) salah satu pengunjung mengaku, ia cukup senang datang ke Aola. Menurutnya, tempat ini menjadi salah satu tempat favoritnya. “Senang mas, anaknya bermain, ibunya bisa bersantai, sedang bapaknya bisa ngopi dengan citarasa kopi yang nikmat, suasananya juga mendukung,” ujarnya.
Berdasarkan informasi lebih lanjut, pihak Aola telah mendatangkan sebanyak 7-8 tronton pasir kuarsa dari Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban. Hal itu dilakukan untuk memperindah kondisi di bibir pantai sekitar Aola. Tak hanya itu, pihaknya juga berencana menambah premium class dengan kualitas terbaik, desain bagus, Indoor, ber-ac, dan membangun dermaga.
“Kita rencanakan juga ada dermaga yang kita bangun dengan desain futuristik dan bagus. Satu lagi, agar di sini bisa menjadi jujukan bagi banyak orang singgah, maka rencana akan kita bangun juga toko pusat oleh-oleh Lamongan, yang jualan produk lokal terbaik Lamongan. Yang berwisata dari Sunan Drajat maupun WBL (wisata bahari Lamongan) bisa mampir dan beli di sini,” tutur Aditya saat diwawancarai.

Di akhir wawancaranya dengan beritajatim.com, Pradita Aditya menyampaikan, Aola digunakan bagi pemuda dan masyarakat untuk diskusi dan pelatihan terkait entrepeneur. Mulai dari bagaimana cara packaging yang baik, cara izin PIRT, izin halal, mengurus perizinan merk Haki bagi UMKM setempat, dll. Ia akan mengembangkan tempat dan fasilitas tersebut lebih baik lagi.
Selanjutnya terkait kendala, kadang masih adanya oknum yang belum sadar tentang menjaga kebersihan dan membuang sampah sembarangan. “Masih sering ada yang buang sampah sembarangan ke laut. Kadang juga ada kiriman sampah dari laut. Tiap hari ada effort lebih untuk membersihkan pantai, itu kendalanya. Untuk kendala lain belum ada, untuk SDM masyarakat setempat sih sudah sangat bagus,” pungkasnya. [riq/suf]

as a preferred source on Google




