Mojokerto (beritajatim.com) – Rencana wisuda siswa-siswi SMA Negeri 2 Kota Mojokerto urung digelar. Wisuda yang direncanakan Sabtu (22/5/2021) ini dibatalkan lantaran ada himbauan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk tidak menggelar wisuda.
Padahal, persiapan sudah 100 persen dilakukan. Pembatalan tersebut disampaikan melalui pesan singkat grup Whatsapp (WA) pada, Jumat (21/5/2021) malam. Meski tidak ada para siswa yang datang ke sekolah, namun persiapan ruang dan katering sudah siap.
[berita-terkait number=”5″ tag=”wisuda”]
“Dibatalkan. Wisuda tidak ada karena dibatalkan. Tadi malam pihak sekolah menyampaikan ke para siswa. Kan ada grup WA, jadi tadi pagi ya tidak ada yang ke sekolah. Cuma memang persiapan sudah 100 persen, rencananya memang hari ini acaranya,” ungkap salah satu satpam SMA Negeri 2 Kota Mojokerto, Budi.
Rencananya wisuda digelar di aula sekolah dengan delapan sesi. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerumunan dan wisuda digelar sesuai protokol kesehatan. Namun meski rencananya wisuda digelar dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur mengirim surat imbaun untuk membatalkan.
“Tadi sudah banyak polisi yang datang ke sini. Ini ditempeli tulisan wisuda dibatalkan biar ada pemberitahuan, Pak Kepala Sekolah maupun Humas tidak ada. Sepertinya ke Polres (Polresta Mojokerto, red). Panitia saja yang di sini, persiapan memang sudah 100 persen wong acara sebenarnya hari ini. Eh kemarin ada imbauan,” ujarnya.
Budi mengaku tidak tahu terkait kerugian pihak sekolah karena pembatasan acara wisuda tersebut. Ia pun tidak mengetahui berapa iuran yang harus dibayar oleh para siswa untuk acara tersebut. Namun tidak sampai para siswa datang ke sekolah karena sudah ada pemberitahuan sebelumnya.
“Tidak sampai ada yang datang, kan sudah disampaikan semalam. Alhamdulillah tidak ada yang datang jadi tidak sampai kecewa karena sudah dandan ternyata wisuda dibatalkan,” tuturnya.
Sementara di depan SMA Negeri 2 Kota Mojokerto sisi barat tampak mobil dinas milik Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Namun sopir mobil dinas tersebut mengaku hanya membawa rombongan keluarga, bukan pegawai. [tin/suf]







