Ponorogo (beritajatim.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak kemarau terjadi di bulan-bulan ini. Kondisi ini akan berlangsung di sebagian besar wilayah di Jawa Timur, tidak terkecuali di Ponorogo.
Terkait hal ini, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, menginstruksikan dinas terkait untuk menjalankan langkah antisipasi sedini mungkin. Dia juga meminta BPBD Ponorogo selalu dalam kondisi siap jika ada panggilan dropping air bersih.
Sugiri menilai bukan tidak mungkin wilayah Ponorogo rawan kekeringan. Sehingga sewaktu-waktu ada permintaan, stok air bersih siap dikirim ke wilayah yang mengalami kekeringan.
“Untuk antisipasi jika terjadi kekeringan, stok air bersih sudah disiapkan. Sewaktu-waktu ada permintaan langsung berangkat,” kata Sugiri, Senin (8/8/2022).
Untuk mengatasi potensi kekeringan, kata Sugiri, pihaknya sudah melakukan beberapa upaya atau solusi. Salah satunya dengan membangun sumur dalam di berbagai titik yang berpotensi mengalami kekeringan di musim kemarau.
Sumur dalam ini bisa menjaga sumber air untuk mencukupi kebutuhan air warga yang berada di sekitar sumur tersebut. Dengan upaya itu, Sugiri mengklaim beberapa titik rawan kekeringan di Ponorogo sudah bisa teratasi.
“Dengan adanya pembangunan sumur dalam, tentu menjadi solusi warga di musim kemarau. Selain itu kita juga mendorong di tiap RT untuk membangun saluran biopori,” pungkasnya.
BPBD Ponorogo pun sudah menyiapkan sedikitnya tiga truk tangki air bersih jika sewaktu-waktu ada permintaan untuk dropping air. Masing-masing truk tangki berkapasitas kurang lebih 6.000 liter.
“Sudah kita siapkan tiga truk tangki berisi air bersih, sewaktu-waktu ada yang membutuhkan, bisa langsung dilakukan dropping” kata Kalaksa BPBD Ponorogo Jamus Kunto.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Ponorogo”]
Selain tiga truk tangki itu, Jamus menyebut pihaknya akan ada suplai air tambahan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtadharma dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ponorogo. Tetapi air dari dua instansi tersebut didroping jika ada kekurangan suplai air.
“Jika mengalami kekurangan, PDAM dan DLH sewaktu-waktu siap membantu suplai air jika mengalami kekurangan,” katanya.
Berdasarkan data pemetaan BPBD Ponorogo, tren kekeringan cenderung turun dari tahun ke tahun. Pada 2017 lalu, ada sembilan desa yang mengalami kekeringan. Selang setahun kemudian, turun menjadi enam desa. Sedangkan 2019 dan 2020 stagnan di enam desa.
“Tahun lalu kekeringan tersisa tiga desa, namun untuk saat ini yang berpotensi mengalami kekeringan sekitar dua desa, yakni Desa Mlarak di Kecamatan Mlarak dan Desa Duri di Kecamatan Slahung,” Pungkasnya. [end/beq]






