Anies Rasyid Baswedan dan Mahfud MD sama-sama pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Lantas ke manakah dukungan mayoritas anggota dan alumni organisasi mahasiswa ekstra universitas tertua di Indonesia itu akan berlabuh dalam pemilihan presiden mendatang?
Anies dan Mahfud sama-sama aktif di HMI saat kuliah di Jogjakarta. Anies adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Angkatan 1989, sementara Mahfud adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Angkatan 1978.
Takdir mempertemukan keduanya dalam pemilihan presiden periode 2024 – 2029. Mahfud menjadi calon wakil presiden mendampingi Ganjar Pranowo yang diusung PDI Perjuangan dan Partai Persatuan Pembangunan. Sementara Anies menjadi calon presiden didampingi Muhaimin Iskandar, diusung Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Keadilan Sejahtera.
“Mereka adalah kader HMI terbaik dalam kesempatan ini. Kami memberikan kesempatan kepada beliau berdua untuk tampil. Silakan berkomunikasi dengan para kader HMI, alumni HMI, dan masyarakat umum,” kata Agus Machfud Fauzi, anggota presidium KAHMI Jatim periode 2022-2027, Sabtu (21/10/2023).
KAHMI Jawa Timur tidak memberikan dukungan resmi kelembagaan kepada salah satu tokoh tersebut. “Siapa yang mampu meyakinkan masyarakat umum, maka akan terpilih,” kata pria yang berprofesi dosen di Surabaya ini.
Anies dan Mahfud sudah pernah berkunjung dan bertemu dengan pengurus KAHMI Jawa Timur. “Jadi kami tetap memberikan lahan komunikasi kepada mereka. Keduanya terbaik, silakan memilih di antara keduanya,” kata Agus.
Salah satu tokoh KAHMI yang ditemui beritajatim.com mengatakan, sebenarnya jaringan HMI sudah terlanjur dibangun untuk Anies Baswedan. “Kan Pak Mahfud baru muncul. Sebelumnya jauh-jauh hari Pak Anies sudah dideklarasikan Koalisi Perubahan dan kemudian mendeklarasikan pencalonan bersama Muhaimin Iskandar. Tidak mungkin mendadak jaringan pemenangan yang sudah dibangun itu kemudian dialihkan,” katanya.
Lagipula, menurutnya, sebagian besar anggota HMI dan KAHMI berharap Anies menjadi presiden. “Kader HMI sudah pernah dua kali menjadi wakil presiden, yakni Pak Jusuf Kalla saat mendampingi Pak SBY dan Pak Jokowi. Saatnya kader HMI menduduki posisi presiden, karena dinilai lebih strategis,” katanya.
Hal itu dibenarkan Moch. Eksan, alumnus HMI dari Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember. “Saya kira jumhurnya (mayoritas) ke Anies. Saya kira kader HMI dan KAHMI mempertimbangkan mana yang paling memungkinkan untuk dipilih dan diperjuangkan. Itu rational choice dan common sense,” katanya.
“Kalau disuruh memilih, saya melihatnya siapa yang paling strategis untuk memperjuangkan aspirasi, dengan melihat konteks sistem ketatanegaraan kita. Otomatis posisi presiden jauh lebih strategis daripada posisi wakil presiden, apalagi dalam penyusunan regulasi dan alokasi anggaran,” kata Eksan.
Sementara itu, Narto, anggota Presidium KAHMI Jember, mengatakan, dukungan dari keluarga besar HMI dan alumninya terbelah. “Kalau di Jember, bolehlah dibilang 50-50,” katanya.
Namun, menurut Narto, Mahfud MD punya keunggulan dibanding Anies untuk menarik dukungan HMI dan KAHMI di tapal kuda. “Istri Pak Mahfud, Bu Zaizatun Nihayati, kan orang Jember. Kalau tidak salah, beliau orang Kecamatan Semboro. Sama-sama aktivis HMI dulu,” katanya.
Sebagai anggota Presidium KAHMI Jember, Narto mempersilakan semua kader memilih Anies atau Mahfud. “Yang penting tidak membawa nama organisasi,” katanya. Apalagi anggota keluarga besar HMI ada di hampir semua partai politik dan organisasi kemasyarakatan, kecuali organisasi non Islam.
Eksan berharap HMI dan KAHMI tak terpecah-belah. “KAHMI bukan ormas seperti NU atau Muhammadiyah. Semakin solid suaranya, semakin baik, semakin memungkinkan kita meraih kemenangan. Tapi kalau pecah, apalagi sesama KAHMI saling klaim paling HMI, saya kira tidak baik itu,” katanya.
Eksan bersyukur, KAHMI memiliki tradisi berdiskusi dan beradu argumentasi tanpa saling serang secara pribadi. “Saya kira itu tradisi yang baik. Esensi kader HMI adalah mewujudkan insan cita, insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernapaskan Islam yang bertanggung jawab terhadap terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridoi Allah SWT,” katanya.
Menurut Eksan, semangat persatuan itu patut dijaga, karena ada kemungkinan pemilihan presiden berlangsung dua putaran. Para kader HMI dan KAHMI pendukung Anies bisa berbalik mendukung pasangan Ganjar – Mahfud jika Anies – Muhaimin tak lolos ke putaran kedua. Begitu pula sebaliknya, kader HMI dan KAHMI pendukung Mahfud bisa berbalik mendukung Anies – Muhaimin jika tak lolos ke putaran kedua.
Agus Machfud mengakui adanya perbedaan pendapat dan perdebatan soal dukungan terhadap Anies dan Mahfud. “Tapi tidak sampai berkonflik negatif. Kami terbiasa belajar konflik. Konflik itu tidak harus berdampak negatif, namun menjadi motivasi untuk menghasilkan kebaikan,” katanya.
Siapapun yang terpilih, KAHMI Jatim berharap amanah yang sudah diberikan rakyat dijalankan sebaik mungkin. “Jangan sampai menyia-nyiakan aspirasi masyarakat. Jangan sampai seperti kere munggah bale (orang miskin yang terkejut dan berubah sikap karena mendadak menduduki jabatan penting, red). Ini proses perkaderan saja. Tidak harus jadi orang kagetan, saat berada pada posisi presiden atau wakil presiden. Jadi biasa saja. Toh 5-10 tahun lagi jadi orang biasa. Ketika menjalankan amanah oke, ketika selesai juga oke,” kata Agus. [wir]






