Jember (beritajatim.com) – Berduetnya Anies Baswedan dengan Muhaimin Iskandar dalam pemilihan presiden saat ini sebenarnya terlihat sangat mustahil terjadi. Prosesnya mengandung sejumlah kejutan dan hal-hal yang tak terduga, sehingga Anies menyebutnya perjodohan yang tak hanya diatur manusia.
Hal ini diceritakan Anies dan Muhaimin bergantian saat berkunjung ke Pondok Pesantren Nurul Islam di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan bertemu dengan para ulama, Kamis (28/9/2023). “Saya sampaikan, ini kelihatannya ini bukan perjodohan yang diatur manusia saja. Ini ada yang Maha Mengatur, mengatur semuanya dan terjadilah sekarang yang kita jalani ini,” kata Anies.
Anies dan Muhaimin sama-sama didorong untuk berduet oleh KH Cholil As’ad Syamsul Arifin, ulama terkenal dari Situbondo, Jawa Timur. Kamis (17/8/2023), datanglah seorang utusan Ra Cholil, sapaan akrab Cholil As’ad, bernama Abdul Qodir Syam dari Bondowoso. Dia mengatakan ada pesan yang harus disampaikan langsung kepada Anies. “Padahal tanggal 17 Agustus itu pas tujuhbelasan pas mepet dan ndilalah saya mau terbang ke Solo. Akhirnya ketemunya di bandara,” kata Anies.
Abdul Qodir Syam mengatakan, ada pesan dari Ra Cholil. “Pesannya beliau dapat isyarah kemarin malam, harus disampaikan, bahwa pasangan panjenengan itu adalah Gus Muhaimin Iskandar,” katanya, diceritakan lagi oleh Anies.
Anies tahu saat itu Muhaimin menjadi kandidat kuat pendamping Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden. Ia kemudian mengibaratkan situasi Muhaimin saat itu dengan situasi jelang pernikahan. “Kira-kiranya kan begini: janur kuningnya sedang dirangkai to? Belum dipasang memang janur kuningnya. Memang sebelum dipasang bisa diambil. Piye iki yo carane?” katanya.
Anies mengaku saat menerima pesan dari Cholil sama sekali tak bisa membayangkan perjodohannya dengan Muhaimin akan terjadi. “Tapi beliau (Ra Cholil) itu sangat yakin. Saya tanya ada pesan lainnya gak? Gak ada, cuma itu saja,” kata Anies.
Pertemuan dengan Qodir Syan berlangsung hanya lima menit, dan meninggalkan Anies dalam kebingungan. “Bagaimana nyambungnya ya? Bagaimana ya cara nyambungnya,” katanya dalam hati saat itu.
Anies tidak tahu, jika dua tahun sebelumnya, Cholil juga mengatakan hal yang sama kepada Muhaimin saat bertemu di Situbondo. Sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin memang rajin berkunjung ke kediaman Cholil untuk bicara banyak hal, termasuk politik.
“Saya dipanggil Ra Cholil. Beliau bilang: Gus Imin, saya lihat langitnya sampeyan itu jodohnya bukan dengan siapa-siapa, tapi dengan Mas Anies Baswedan. Itu tahun 2021,” kata Muhaimin, mengingat kembali kejadian saat itu.
Sama seperti Anies, Muhaimin juga bingung mendengar kata-kata Cholil. “Karena ini berita langit, maka berita langit belum tentu bisa dilaksanakan, karena harus melihat fakta bumi. Saya renungkan, tidak saya terima, juga tidak saya tolak,” katanya.
Saat itu, Anies masih menjabat gubernur DKI Jakarta. “Saya juga tanda tanya, karena waktu itu Mas Anies masih gubernur. Bahkan bisa dibilang perintahnya Kiai Cholil itu, kalau bahasa sekarang, ‘gak bahaya tah’,” kata Muhaimin, disambut tawa hadirin.
Namun rupanya rekomendasi menduetkan Anies dengan Muhaimin bukan hanya dari Cholil. Muhaimin bertemu dengan seorang kiai asal Jawa Tengah saat beribadah haji. “Beliau bilang, gak ada jalan kamu sama pacar lamamu. Ini jalan yang terbaik. Saya sudah istikharah,” katanya.
Rupanya politik memang tak bisa diterka. Belakangan, Koalisi Perubahan untuk Persatuan belum menemukan pasangan yang pas untuk Anies kendati Partai Demokrat ngotot menyodorkan nama Agus Harimurti Yudhoyono. Sementara nasib pencalonan Muhaimin sebagai wakil presiden Prabowo tidak jelas, setelah mendadak terjadi perubahan nama koalisi dari Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya yang terdiri atas PKB dan Gerindra menjadi Koalisi Indonesia Maju setelah Golkar dan PAN bergabung.
Selasa (29/8/2023), Muhaimin bertemu Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh. “PKB apa maunya, Pak Muhaimin?” tanya Paloh, sebagaimana diceritakan Muhaimin.
“Lho saya capres,” kata Muhaimin.
“Tidak bisa, Nasdem juga maunya capres. Duluan Nasdem mendeclare Anies dibanding PKB mendeclare Gus Imin,” kata Paloh.
“Duluan saya, saya sudah Hari Santri yang lalu,” bantah Muhaimin tak mau kalah.
Muhamin mengatakan saat itu terjadilah perdebatan panjang. Belum ada kata sepakat. Muhaimin tidak langsung menyetujui tawaran Paloh.
“Tanggal 29 malam saya telepon Sekretaris Dewan Syuro PKB Jawa Tengah yang ahli istikharah. Saya tanya: coba dicek, Qurannya gimana kalau koalisi sama Mas Anies,” kata Muhaimin.
Sekretaris Dewan Syuro DPW PKB Jateng KH Alamudin Dimyati Rois kebetulan ada di Mekah. Ia meminta waktu empat jam. “Istikharah kok empat jam. Setengah jam,” sahut Muhaimin saat itu.
Lima jam kemudian, Alamudin menelepon Muhaimin. “Hasil istikharah (untuk) saya bunyinya: wata’awanu Alal birri wattaqwa wala ta’awanu Alal Ismi Wal udwan. Itu kalau bahasa Jembernya, tinggalkanlah pacar lama, ikuti pacar yang baru. Kira-kira seperti itu,” kata Muhaimin menceritakan kembali kepada hadirin acara silaturahmi di Ponpes Nurul Islam.
Sebelum memutuskan untuk bergabung dengan Koalisi Perubahan yang mengusung Anies, Muhaimin juga menemui Koordinator Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama KH Abdul Mun’im DZ. “Kiai Mun’im saya tanya. Ini begini, kita berubah keadaan. Pacar lama harus kita akhiri, kita menemukan pacar baru. Kaget dia. Beliau bilang: wah ini menurut saya justru terbaik,” kata Muhaimin.
“Kata Kiai Mun’im, kenapa terbaik? Inlah yang disebut koalisi kafa’ah. Apa itu? Koalisi perkawinan satu kufu. Seimbang, sejajar, equal. Setara. Kufu. Kafa’ah. Supaya apa? Supaya kita bersinergi. Bahu-membahu. Enak dirasakan bareng. Jangan sampai enak dinikmati sendiri, yang lain menunggu,” kata Muhaimin.
“Inilah koalisi kafa’ah. Kita ingin sejajar, seimbang, equal. Insyallah akan mempercepat proses, tantangan kita atasi bersama-sama. Jangan juga pengalaman-pengalaman tidak enak. Ada keluarga yang dibangun tidak sekufu, merasa lebih besar dengan koalisi yang lainnya. Sering ninggal. Itu namanya tidak sekufu,” kata Muhaimin.
Pertimbangan lainnya adalah perjuangan politik PKB sebagai representasi NU tidak boleh terhenti. “Saya dan PKB ini adalah aliran air deras yang bersumber dari mata air perjuangan politik ahlussunah wal jamaah. Insyaallah saya dan PKB ini adalah mata air yang menjadi pewaris ajaran sekaligus pewaris sejarah perjuangan politik ahlussunah wal jamaah,” kata Muhaimin.
Menurut Muhaimin, aliran ini tidak boleh berhenti. “Sepuluh tahun aliran ini mengalir deras dalam koalisi pemerintahan Pak SBY. Pak Alwi Shihab jadi menteri, saya jadi menteri, Pak Saifullah Yusuf, Helmy Faisal, siapa lagi waktu itu? Lukman Edi. Itu sepuluh tahun bersama Pak SBY. Air itu mengalir dalam seluruh aliran-aliran pemerintahan dan kenegaraan,” katanya.
Tahun 2014, PKB bergabung dengan PDI Perjuangan untuk mengawal Presiden Joko Widodo. “Tahun 2024 air ini juga mencari jalannya. Pacaran ke sana kemari itu sebetulnya cuma cari jalan. Mana jalan kebenaran yang paling tepat dan paling diridoi oleh takdir zamannya,” kata Muhaimin.
Muhaimin menegaskan, pada titik tertentu, air yang deras tidak boleh berhenti terlalu lama. “Ibarat kalau air terlalu lama berhenti disebut ngecembeng. Ngecembeng terlalu lama biasanya bisa jadi peceren, bisa jadi comberan. Tidak boleh berhenti,” katanya.
Hasil rapat koordinasi nasional PKB juga sepakat. “Dalam rapat koordinasi nasional itu diputuskan, kita tidak boleh berhenti. Tetapi harus terus mencari jalan keluar agar aliran perjuangan aswaja ini tidak berhenti dan terus mengalir dengan derasnya,” kata Muhaimin.
Akhirnya duet Anies-Muhaimin dideklarasikan. “Saya dan Mas Anies adalah dwitunggal yang tidak bisa dipisahkan dalam satu proses politik, mulai dari nikah cepet tanggal 2 September 2023, langsung dilakukan nikah siri,” katanya.
“Insyaallah akan kita bawa ke KPU pada 19 Oktober yang akan datang. Mohon doanya, mohon restunya. Semoga nikah siri ini membawa menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah,” kata Muhaimin. [wir]






