Lamongan (beritajatim.com) – Calon Presiden RI nomor urut 1, Anies Baswedan menyempatkan sowan ke Pondok Pesantren Al-Ishlah, Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jumat (29/12/2023).
Kedatangannya di Ponpes Al-Ishlah disambut dengan barisan puisi yang dibacakan oleh KH. Muhammad Dawam Saleh, yang merupakan pengasuh ponpes setempat. Ribuan masyarakat dan santri yang memadati lokasi pun ikut riuh menyambut kehadiran Anies Rasyid Baswedan.
Kiai Dawam, panggilan akrab Pengasuh Ponpes Al-Ishlah menyampaikan bahwa kedatangan Anies di pondoknya sudah begitu dinanti. Menurutnya, Anies adalah sosok Capres yang cerdas dan berwawasan luas.
“Selamat datang Pak Anies di pesantren Al-Ishlah. Semoga Pak Anies mampu membawa perubahan Indonesia yang adil dan makmur,” ujar Kiai Dawam, dalam kegiatan yang bertajuk Silaturahim Kebudayaan tersebut, Jumat (29/12/2023).
Di hadapan ribuan hadirin, Kiai Dawam membacakan beberapa puisi yang kepada Anies Baswedan. Setidaknya ada 5 judul puisi yang dibaca, di antaranya Jika Presiden Kita Pak Anies Baswedan, Aku Do’akan, Pilihan Kebenaran, Anies Sandi Sang Pribumi dan Jangan Ulangi.
“Aku doakan lautan dukungan tak terpendam, aku doakan kemenangan pada kebenaran, aku doakan kepresidenan di tangan Anies Baswedan,” isi penggalan puisi yang dibacakan untuk Anies.
Dalam kesempatan yang sama, Anies Rasyid Baswedan mengaku senang atas kunjungan yang dilakukannya di Ponpes Al Ishlah Sendangagung. Dia menyebut, antara dirinya dengan pengasuh masih ada sanad keilmuan yang tersambung.
“Mari kita lakukan perubahan. Semua masalah, seperti pupuk bagi petani, kelangkaan solar bagi nelayan dan lainnya harus kita atasi. Bismillah, perubahan ini akan menghadirkan adil makmur untuk semua,” kata Anies.
Anies menjelaskan bahwa prinsip yang diusung oleh Paslon Amin adalah membesarkan yang kecil tanpa mengecilkan yang besar. “Jangan sampai yang besar tidak memudahkan dan yang kecil dibiarkan kesulitan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Anies mengajak kepada semua masyarakat yang hadir untuk bekerjasama dan memperkuat barisan perubahan.
“Ibaratnya, saya dan Gus Muhaimin dapat tugas untuk memegang microphone, tapi yang membuat acara ini berjalan baik adalah orang-orang yang menyiapkan semuanya dalam acara ini, mulai dari yang memasang panggung, terop, hingga tukang sound,” tutur Anies.
“Meski saya memegang microphone, tapi baik buruknya suara tergantung tukang sound. Ada orang-orang di balik layar yang berupaya mensukseskannya, yakni orang-orang baik yang bergerak di seluruh Indonesia untuk perubahan, mengikhtiyarkan Indonesia lebih adil,” pungkasnya. [riq/but]






