Surabaya (beritajatim.com) – Pemberitaan media atas kejadian infeksi leptospirosis di Kabupaten Tulungagung dan Pacitan mendapat atensi dari Anggota DPRD Jawa Timur, Diana Sasa.
Leptospirosis adalah penyakit bakteri menyebar melalui air seni hewan yang terinfeksi. Manusia bisa terkena leptospirosis melalui kontak langsung dengan urine hewan yang terinfeksi atau melalui air, tanah, atau makanan yang terkontaminasi urine hewan. Kondisi ini paling umum terjadi di iklim hangat.
Diana menyampaikan telah berkoordinasi dengan Puskesmas dan pemangku kepentingan di Kecamatan Nawangan, Pacitan.
“Kebetulan Nawangan adalah kampung halaman saya. Meski saya tidak tinggal di sana tapi orang tua dan saudara masih banyak di sana. Saya sudah langsung berkoordinasi dengan Puskesmas dan Kecamatan tentang pemberitaan di media terkait pasien leptospirosis yang dikabarkan hingga meninggal dunia,” urai perempuan legislator PDIP itu.
Diana menjelaskan, bahwa dari hasil koordinasinya memang dibenarkan ada pasien yang meninggal 3 orang, 88 suspect, dan 24 terkonfirmasi. Sebagian besar pasien sudah kembali ke rumah, sisa 2 orang masih di rawat di RSUD dan 1 orang di RS Swasta.
“Faktor cuaca bulan Januari hingga Februari ini memang sangat mempengaruhi, curah hujan sedang tinggi, kondisi lembab dan banyak genangan air. Hama tikus kemudian banyak meninggalkan urin yang mencemari area persawahan. Rata-rata pasien adalah petani yang bekerja di sawah. Mereka tidak memakai pelindung kaki dan ada luka di kakinya, sehingga rawan terkena infeksi,” jelasnya.
Baca Juga: Said Abdullah: PDIP Jatim Bakal Gaet Kaum Milenial
Perempuan yang juga dikenal sebagai aktivis ini menyarankan agar para petani mewaspadai ancaman penyakit infeksi ini dengan menggunakan pelindung kaki saat bekerja di sawah.
“Jangan lupa untuk membersihkan badan dengan sabun setelah beraktivitas di sawah, karena sabun dapat mematikan kuman. Jika mendapati gejala demam mendadak yang disertai linu di betis sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujarnya.
Diana juga berkoordinasi dengan OPD di Provinsi mengenai mitigasi wabah. Pemprov Jatim sudah langsung turun ke lapangan dan melakukan mitigasi.
“Seharusnya Dinas Kesehatan lebih gerak cepat lagi dalam melakukan sosialisasi pencegahan, karena masyarakat awam terhadap penyakit ini.
Baca Juga: Jelang Pileg, PDIP Jatim Siapkan Banteng Petarung
Edukasi sangat dibutuhkan. Ini era digital yang harusnya sosialisasi bisa lebih cepat dan masif. Tenaga kesehatan dan armada ambulans untuk puskemas juga sebaiknya ditambah karena Nawangan itu 50 km dari Pacitan kota dan Ponorogo, dengan medan yang cukup berkelok-kelok. Kalau merujuk pasien jauh. Tenaga medisnya juga terbatas. Saya harap Gubernur memberi atensi khusus agar penyakit ini tidak merebak di daerah lain mengingat curah hujan sedang tinggi dan rawan penyakit infeksi,” pungkasnya. (tok/ted)






