Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Untag Surabaya, Mahardika Harilinawan, mengungkap korelasi negatif korupsi dan utang luar negeri terhadap kemiskinan. Penelitian ini membedah data makroekonomi Indonesia sepanjang periode 2003 hingga 2022.
Kajian tersebut lahir dari pengamatan terhadap akses pendidikan dan kesehatan yang masih timpang. Mahardika menilai kemiskinan bukan sekadar angka, melainkan persoalan akses kesejahteraan yang belum merata di berbagai daerah.
Ia menggunakan basis data World Development Indicators dari World Bank sebagai referensi utama. Tingkat korupsi dianalisis melalui Corruption Perception Index yang diterbitkan oleh Transparency International untuk melihat efektivitas pengelolaan keuangan negara.
Temuan penelitian menunjukkan korupsi melemahkan efektivitas pemanfaatan anggaran pembangunan. Praktik lancung tersebut menyebabkan dana negara tidak terserap optimal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, terutama di wilayah terpencil.
“Jika korupsi masih terjadi, dana pembangunan tidak sepenuhnya berdampak bagi masyarakat,” ujar Mahardika dikutip Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, hal ini menjadi faktor utama terhambatnya target penurunan angka kemiskinan nasional secara signifikan.
Terkait utang luar negeri, hasil kajian mencatat tren kenaikan utang belum berbanding lurus dengan penurunan kemiskinan. Instrumen pembiayaan ini dinilai belum memberikan dampak yang sepadan bagi masyarakat strata bawah.
Mahardika menjelaskan bahwa secara prinsip utang seharusnya mampu mendorong pengentasan kemiskinan. Namun, penurunan angka kemiskinan di Indonesia saat ini belum signifikan jika dibandingkan dengan peningkatan beban utang luar negeri.
Penelitian ini juga menyoroti kesenjangan lebar antara penduduk perkotaan dan daerah tertinggal. Kondisi di wilayah terpencil menunjukkan realitas kemiskinan yang jauh lebih kontras dibandingkan kondisi di kota-kota besar.
Mahardika menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas pemerintah dalam mengelola anggaran. Pengawasan ketat diperlukan agar program-program pengentasan kemiskinan benar-benar menyentuh target sasaran secara tepat guna dan efisien.
Mahasiswa angkatan 2022 ini berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun di bawah bimbingan Dr. Arga Christian Sitohang. Ia dijadwalkan mengikuti prosesi wisuda di Untag Surabaya pada 15 Februari 2026. [ipl/suf]






