Banyuwangi (beritajatim.com) – Persoalan anak putus sekolah ternyata tidak hanya berkutat soal biaya. Namun, beberapa faktor lainnya juga menjadi penyebab seorang pelajar enggan untuk melanjutkan pendidikannya. Seperti halnya seorang siswi yang berasal dari Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari.
Pelajar perempuan berinisial ML terpaksa tak sekolah lagi dalam dua bulan terakhir. Siswi kelas sembilan di salah satu sekolah swasta itu, mengaku tak pede lantaran sering dirundung oleh kawannya. “Diejek sama teman, malu,” akunya ketika ditanya oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat menjenguknya di rumahnya.
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/peristiwa/sahat-simanjuntak-dipindahkan-ke-rutan-kejati-jatim/
Kondisi itu diperparah dengan keadaan ekonomi di dalam keluarganya. Apalagi, kedua orang tuanya kini juga mengalami sakit. Dua hal itulah yang semakin menghimpit kepercayaan dirinya di sekolah. “Sudah dua bulan ini, saya tidak kembali ke sekolah,” ungkapnya.
Bupati Ipuk lantas merasa prihatin mendengar pengakuan itu. Pihaknya mencoba memberikan motivasi agar gadis itu mau kembali bersekolah. Sungguh, kasihan jika berlarut akan berpengaruh pada masa depannya. “Kalau ada yang nge-bully lagi, laporkan ke guru. Jangan takut. Nanti Pak Guru-nya, saya bilangin agar menjaga kamu,” ungkap Ipuk.
Pada kesempatan tersebut, Ipuk juga mengimbau kepada seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan untuk bahu-membahu menghentikan perundungan di lingkungan sekolah. “Stop bullying. Tidak boleh ada lagi perundungan di sekolah. Sekolah harus jadi tempat yang nyaman bagi anak-anak kita untuk belajar,” tegas Ipuk. (rin/kun)






