Bondowoso, (beritajatim.com) – Di sebuah dapur luas di Kelurahan Badean, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso, aktivitas berlangsung seperti arus air yang tak pernah berhenti. Suara ompreng beradu dengan lantai dan bak cuci terdengar nyaring, memantul di dinding-dinding. Di ruangan lain, tumpukan buah naga, sayuran segar, dan tempe mentah siap diolah.
Dari luar, bangunan itu tampak biasa. Namun di dalamnya, ribuan porsi makanan untuk anak-anak sekolah disiapkan tanpa jeda. Di tengah irama itu, Yulia Linda Lestari (24) melangkah tenang. Kemeja gelap lengan panjang menutupi tubuhnya, kerudung abu-abu membingkai wajah teduhnya.
Kepala SPPG Bondowoso “Badean 2” itu mengawasi para karyawan yang bergerak seperti roda mesin raksasa.
Usianya muda, tetapi tanggung jawabnya besar. Ia memimpin 49 orang dalam dapur yang bekerja memproduksi makanan bagi 3.264 siswa dari tujuh sekolah. “Saya dari kecil pengin kuliah kesehatan, tapi nggak mau pegang jarum suntik,” katanya sambil tersenyum saat suara ompreng kembali terdengar dari belakang.
Keinginannya berputar-putar di masa remaja: sempat ingin jadi apoteker, mundur karena kimia terasa menukik. Lalu saran guru BK mengarahkannya ke jurusan gizi Universitas Jember.
Ia mencoba lewat jalur undangan SNMPTN, dan lolos. Lulus pada Oktober 2024, kemudian masuk SPPI—Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia—yang akhirnya menempatkannya di dapur Bondowoso Badean 2. Tempat ia kini mengatur seluruh alur produksi: persiapan bahan, pengolahan, pemorsian, distribusi, hingga cuci ompreng.
Dapur ini tak mengenal tidur. Persiapan mulai bekerja pukul 7 malam sampai 3 pagi. Bagian pengolahan masuk tengah malam hingga 8 pagi. Pemorsian mulai jam 3 pagi sampai 10. Distribusi bergerak sejak subuh sampai siang. Lalu ompreng-ompreng kotor tiba pada tengah hari dan dicuci hingga malam. Di sela-selanya ada tim kebersihan dan keamanan yang bekerja dalam dua sampai tiga shift.
Di antara para pekerja itu, Mustajib Billah Dwi Saputro (20) berdiri dengan celemek merah dan mengenakan masker. Ia lulusan Tata Boga SMKN 2 Bondowoso, anak kedua dari tiga bersaudara.
Mustajib pernah bekerja di restoran di Jember dengan gaji Rp 2,3 juta, hidup ngekos, makan irit. Ibunya merasa hidupnya tak cocok di rantau. Ia pulang, bekerja di restoran di Bondowoso, lalu melihat lowongan MBG dari Instagram.
“Di sini dibayar per dua minggu, sehari Rp 100 ribu. Cocok karena tinggal sama ortu,” katanya. Gajinya memang lebih kecil dibanding restoran Jember, tapi pengeluarannya jauh lebih ringan.
Baginya, program Makan Bergizi Gratis membuka pintu kerja bagi banyak anak muda yang sering kali terhalang batas umur atau syarat rumit. “Minimal SMA sudah bisa masuk. Itu enaknya,” ucap warga Kelurahan Tamansari, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso itu.
Dapur MBG juga menjadi pintu rezeki bagi ibu-ibu muda. Salah satunya Niken Cahyaning Aditya Rosalina (29). Ia lulusan S1 Manajemen, sebelumnya ibu rumah tangga dengan satu anak berusia tiga tahun. Suaminya bekerja sebagai technical support.
“Dulu saya nggak ada kerjaan. Pas tahu MBG kerja malam, saya bisa ikut. Selama saya kerja, anak bisa sama suami atau eyang utinya,” ujarnya.
Niken bekerja di bagian persiapan. Penghasilannya ia tabung untuk kebutuhan anaknya yang terus bertambah. “Dapat dukungan dari keluarga. Umur saya sekarang juga sudah 29. Kalau cari kerja di luar, seringnya maksimal 25 tahun,” katanya lirih, seolah tahu betul betapa sempitnya peluang bagi perempuan seusianya.
Di dapur itu, kisah mereka bertemu. Anak muda yang mencari stabilitas. Ibu rumah tangga yang ingin bangkit. Tante-tante pekerja shift malam. Lelaki muda yang pulang kampung demi nafkah yang lebih tenang. Semua berkumpul di area dapur yang bekerja untuk ribuan siswa setiap hari.
Program Makan Bergizi Gratis mungkin terlihat sebagai kebijakan pusat yang besar. Namun di Bondowoso, ia menjelma menjadi ruang kerja yang memberi napas baru kepada orang-orang biasa. Tempat mereka membangun hidup, menata harapan, dan menyusun ritme baru di tengah malam. (awi/kun)






