Surabaya (beritajatim.com) – Departemen Dermatologi Venereologi dan Estetika (DVE) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menelusuri kembali rekam jejak Dr. Soetomo. Pahlawan nasional tersebut tercatat sebagai perintis pendidikan kedokteran kulit dan kelamin pertama di Surabaya pada 103 tahun silam.
Ketua Alumni DVE FK Unair dr. Evy Ervianti mengungkapkan bahwa fakta sejarah ini tertulis di berbagai literatur. Ia menyebut Dr. Soetomo telah mengajar disiplin ilmu tersebut sejak tahun 1923.
“Dikarenakan ini berkenaan dengan kita menelusuri sejarah pendidikan dermatologi venereologi, ternyata di Surabaya itu sudah ada Dr. Sutomo sebagai tokoh kebangkitan nasional yang memberikan pendidikan kulit dan kelamin sejak 1923,” kata dr. Evy saat Reuni Alumni DVE FK Unair, Sabtu (7/11/2026).
Sebelum merintis pendidikan medis di tanah air, dr. Evy menjelaskan bahwa tokoh pergerakan ini menempuh pendidikan di Belanda. Pemerintah kolonial mengirimnya ke Amsterdam University untuk mendalami ilmu penyakit kulit.
“Beliau di tahun 1919 sampai dengan 1923 disekolahkan oleh Belanda di Amsterdam University untuk memperdalam dermatologi venereologi selama 4 tahun,” ujar dr. Evy.
Usai merampungkan studi, Dr. Soetomo pulang ke Surabaya dan bergabung dengan lembaga pendidikan kedokteran NIAS atau Nederlaandsch Indisch Artsen School–sekarang FK Unair. Ia membagikan ilmunya kepada para calon dokter di rumah sakit pendidikan Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) Simpang.
“Setelah itu beliau pulang ke sini, kemudian diajak oleh NIAS, NIAS itu cikal bakalnya FK Unair, kemudian beliau juga bekerja di CBZ Simpang sebagai rumah sakit pendidikan dari NIAS, sehingga mulailah mengajar,” terang dr. Evy.
Catatan sejarah ini membuat para lulusan spesialis kulit Unair menetapkan Dr. Soetomo sebagai panutan profesi. Dokter Evy mengingatkan para dokter untuk terus memegang teguh nilai pengabdian dari sang pelopor.
“Dokter kulit pertama di Indonesia itu kan Dr. Sutomo, beliau itu tokoh pahlawan nasional dan beliau itu panutan kita,” tegas dr. Evy.
Melalui peringatan ke-103 tahun ini, Ketua Panitia Reuni Alumni DVE FK Unair dr. Ni Putu Susari Widianingsih berharap nilai historis tersebut membawa dampak nyata. Para dokter didorong untuk menjalin kerja sama lintas sektor.
“Kemudian juga diharapkan dengan sarasehan ini ada terbuka kolaborasi mungkin ya untuk ke depannya adik-adik yang baru lulus mungkin yang lain-lain yang ingin berkarir juga seperti yang sudah berhasil,” tuturnya.
Pada reuni ini, DVE FK Unair juga menampilkan ragam karya seni dan rekam jejak karier lintas sektor.
”Pameran humaniora ini adalah karya dari DVE di luar profesinya ya, banyak yang mempunyai keahlian seperti fotografi, kemudian lukisan-lukisan ya, tulisan, buku-buku, kemudian karya seperti fashion, ada juga,” kata dr. Ni Putu.
Selain karya seni rupa dan busana, dr. Ni Putu menyebut ada alumni yang merambah dunia tarik suara dan penciptaan lagu. Salah satu karya musik tersebut bahkan dipakai oleh organisasi profesi tingkat nasional.
”Juga ada lagu himne, himne Perdoski ya, itu adalah ciptaan dari lulusan kita di sini juga,” tandasnya. [ipl/beq]






