Ringkasan Berita:
- Direktorat Teknologi Informasi Universitas Brawijaya mengembangkan LLMNetOps, sistem AI untuk membantu administrator mendeteksi gangguan dan mengelola jaringan kampus.
- Sistem dirancang berjalan secara lokal di lingkungan institusi agar data konfigurasi dan informasi jaringan tidak perlu dikirim ke server eksternal.
- Pengembangan LLMNetOps memperoleh hibah internasional ISIF Asia/APNIC Foundation 2025 senilai USD30.000 dan melibatkan konsorsium Indonesia Research and Education Network.
- Workshop LLMNetOps di Malang diikuti 40 peserta dari 24 perguruan tinggi dan institusi pemerintah. UB juga menyiapkan pendampingan daring serta membagikan modul dan kode sumber secara cuma-cuma.
Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan sistem kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) bernama LLMNetOps (Large Language Model for Network Operations). Platform ini dirancang untuk membantu administrator jaringan mendeteksi gangguan teknis, menganalisis kondisi perangkat, hingga menyusun laporan operasional secara otomatis.
Pengembangan sistem tersebut dilakukan Direktorat Teknologi Informasi Universitas Brawijaya (DTI UB) sebagai upaya menjawab persoalan pengelolaan jaringan internet di lingkungan perguruan tinggi dan institusi riset. Tantangan yang dihadapi antara lain keterbatasan tenaga ahli, perbedaan kompetensi administrator, serta banyaknya perangkat keras yang harus dipantau secara berkelanjutan.
Direktur DTI UB, Dr. Ir. Raden Arief Setyawan, ST., MT., mengatakan pengembangan LLMNetOps berangkat dari persoalan konkret yang dihadapi institusi pendidikan tinggi dalam mengelola infrastruktur jaringan.
“Pengelolaan jaringan di lingkungan perguruan tinggi memiliki tantangan tersendiri. Jumlah perangkat yang harus dikelola cukup banyak, sementara tenaga teknis dan kompetensi administrator jaringan di setiap institusi tidak selalu sama,” ujar Raden Arief Jumat (6/11/2026).
Menurut Raden Arief, teknologi AI dapat membantu pekerjaan administrator, mulai dari menganalisis catatan aktivitas sistem atau log hingga menelusuri sumber gangguan jaringan. Karena itu, DTI UB mengembangkan LLMNetOps agar dapat dimanfaatkan institusi pendidikan dan riset.
Salah satu perhatian utama dalam pengembangan sistem tersebut adalah keamanan data dan perlindungan privasi. Penggunaan model AI generatif berbasis komputasi awan selama ini memunculkan kekhawatiran terkait potensi kebocoran informasi. Terlebih, konfigurasi perangkat jaringan dan catatan log dapat memuat parameter yang bersifat rahasia.

Melalui LLMNetOps, UB mengembangkan pendekatan AI yang dapat dijalankan secara lokal di lingkungan institusi. Dengan model tersebut, informasi konfigurasi dan jaringan tidak harus dikirimkan ke server eksternal.
“Melalui LLMNetOps, kami ingin menghadirkan sistem AI yang dapat dijalankan secara lokal di lingkungan institusi. Dengan demikian, data konfigurasi dan informasi jaringan tidak perlu dikirimkan ke server eksternal,” ujar Raden Arief saat menjelaskan inovasi tersebut dalam lokakarya Workshop LLMNetOps di Hotel Ijen Suites, Kota Malang, Jumat hingga Sabtu (6–7/11/2026).
Pengembangan sistem ini juga memperoleh dukungan pendanaan internasional melalui hibah ISIF Asia/APNIC Foundation tahun 2025 senilai USD 30.000. Dalam tahap implementasi, UB menggandeng konsorsium Indonesia Research and Education Network (IDREN).
Secara arsitektur, LLMNetOps dirancang sebagai AI co-pilot bagi tim teknologi informasi dengan tiga komponen utama. Pertama, model bahasa besar atau large language model (LLM) lokal yang dipasang langsung pada peladen mandiri milik universitas.
Kedua, agen otomatisasi NetOpsAgent yang menerjemahkan pertanyaan menggunakan bahasa alami menjadi sintaks perintah untuk berkomunikasi dengan perangkat jaringan. Ketiga, NetOpsUI berupa antarmuka berbasis web interaktif yang memungkinkan administrator berinteraksi dengan sistem melalui mekanisme tanya jawab.
Penerapan teknologi tersebut dirancang untuk menyederhanakan pekerjaan teknisi. Misalnya, ketika muncul laporan gangguan pembagian alamat IP pada jaringan lokal di sebuah gedung perkuliahan, operator cukup memasukkan instruksi untuk memeriksa status router melalui sistem.
Selanjutnya, mesin AI akan menelusuri perangkat yang terhubung, memeriksa log gangguan, dan menyajikan hasil analisis. Dengan mekanisme tersebut, staf tidak perlu masuk secara manual ke setiap perangkat untuk melakukan pemeriksaan awal.
Pengembangan dan pemanfaatan LLMNetOps diperkenalkan melalui workshop teknis yang diikuti 40 peserta dari 24 perguruan tinggi dan institusi pemerintah. Sejumlah institusi yang mengirimkan peserta di antaranya UGM, UI, ITB, Unpad, Unhas, UNS, UPI, Unnes, Unsrat, Unsri, USK, Untan, Unmul, dan Unpatti.
Peserta lainnya berasal dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Pusdatin Kemdiktisaintek, UM, UK Petra, UMM, ITK, UBT, Polinema, serta Institut Asia Malang.
Rangkaian kegiatan tersebut dipandu oleh jajaran pakar DTI dan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB, yakni Achmad Basuki, Ph.D., Rizal Setya Perdana, Ph.D., Eko Sakti Pramukantoro, Ph.D., Alan Stevrie Balantimuhe, MT., Abdur Rohman Muhammad, MT., Ratno Wahyu Widyanto, ST., dan Kharisma Kumbarakarta, ST. Turut hadir Widyawan dari Universitas Gadjah Mada yang mewakili IDREN.
Dalam kegiatan tersebut, Widyawan memaparkan sinergi komunitas IDREN dan pemanfaatan AI lokal sebagai salah satu pendekatan untuk menjawab kesenjangan kemampuan teknis di berbagai kampus daerah.
Raden Arief menambahkan, setelah mengikuti pelatihan, para delegasi diharapkan mampu melakukan instalasi LLMNetOps secara mandiri sesuai spesifikasi perangkat keras di masing-masing kampus.
“Tim UB juga menyiapkan pendampingan lanjutan secara daring serta membagikan seluruh modul dan kode sumber secara cuma-cuma demi memperkokoh ekosistem digital nasional,” kata Raden Arief menutup keterangan. [dan/beq]






