Lumajang (beritajatim.com) – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, belakangan masih cukup tinggi.
Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, terjadi sebanyak 151 letusan yang dikeluarkan Gunung Semeru pada periode bulan Januari 2026.
Terbaru, Gunung Semeru mengalami erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai 1 kilometer, Senin (19/1/2026).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Sebab, Gunung Semeru saat ini memiliki status level III (Siaga) yang cenderung menunjukkan peningkatan baik berupa erupsi maupun banjir lahar.
Kalaksa BPBD Lumajang Isnugroho mengatakan, beberapa pekan terakhir letusan Gunung Semeru terjadi dengan intensitas cukup sering.
Hal ini dipicu adanya tekanan berupa tremor harmonik, tremor dalam, serta kegempaan dari dalam perut Gunung Semeru.
“Jadi, kenapa terjadi letusan dengan intensitas yang cukup padat, memang dalam laporan PVMBG itu, ada tremor harmonik, tremor dalam, lalu ada kegempaan yang di dalam gunung,” terang Isnugroho, Senin (19/1/2026).
Menurutnya, tekanan dari dalam inilah yang memicu Gunung Semeru terus-terusan mengalami erupsi.
Isnugroho menyampaikan, aktivitas vulkanik Gunung Semeru justru akan semakin mengkhawatirkan saat letusan dengan skala kecil jarang terjadi. Hal itu menandakan Gunung Semeru sedang menyimpan tenaga yang semakin besar.
“Inikan dia tertekan ke atas, sehingga ketika di atas ini tidak ada lobang tentunya akan menimbulkan ledakan. Tapi yang paling kita takutkan itu ketika Semeru tidak mengeluarkan letusan kecil itu dia menyimpan tenaga nya semakin besar,” tambah Isnugroho.
Untuk mewaspadai potensi bencana Gunung Semeru, masyarakat diimbau agar tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat juga direkomendasikan tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
“Tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). Juga harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai,” ungkap Isnugroho. [has/aje]






