Tulungagung (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung melakukan evakuasi material lumpur setebal 15 sentimeter yang menutup akses jalan utama di Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, pada Sabtu (31/1/2026). Langkah ini diambil setelah banjir bercampur lumpur menerjang kawasan tersebut akibat hujan deras berintensitas tinggi yang terjadi sejak beberapa hari terakhir.
Petugas BPBD dibantu warga sekitar bergotong royong menyingkirkan material sisa banjir dengan mengerahkan alat berat serta bantuan armada pemadam kebakaran. Ketebalan lumpur yang mencapai belasan sentimeter tersebut sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat dan membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Kalaksa BPBD Tulungagung, Sudarmaji, menjelaskan bahwa bencana ini berdampak pada tiga wilayah kecamatan, yakni Kalidawir, Tanggunggunung, dan Besuki. Namun, dampak yang paling signifikan terlihat di Desa Besole karena air lumpur juga menggenangi fasilitas pelayanan publik hingga permukiman warga.
“Airnya sudah surut ini tinggal lumpur yang menutup akses jalan,” ujarnya, Sabtu (31/1/2026).
Selain menggenangi badan jalan sepanjang 500 meter, luapan banjir lumpur ini turut merendam Balai Desa, Puskesmas, hingga gedung sekolah di wilayah setempat. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya aspal jalan yang terkelupas akibat derasnya arus air yang bercampur dengan material tambang.
Kondisi jalan yang sangat licin sempat mengakibatkan sejumlah pengendara motor jatuh tergelincir saat mencoba melintasi sisa-sisa material lumpur yang basah. Petugas kemudian menyemprot permukaan aspal dengan air bertekanan tinggi setelah alat berat berhasil menyingkirkan tumpukan tanah yang mengeras.
“Setelah lumpur kita bersihkan baru kita semprot jalan dengan air hingga bersih,” ungkap Sudarmaji.
Proses penyemprotan ini dilakukan secara mendetail untuk memastikan tidak ada sisa partikel tanah yang membahayakan kendaraan yang melintas.
Kawasan Desa Besole memang dikenal sebagai titik langganan banjir lumpur, namun kejadian kali ini disebut sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas penambangan batu marmer di area perbukitan yang sudah mulai gundul diduga kuat menjadi penyebab utama melimpahnya kiriman lumpur ke pemukiman.
“Jalan yang tertutup lumpur mencapai sekitar 500 meter, proses pembersihan masih berlangsung,” pungkas Sudarmaji. [nm/beq]






